Tag Archives: MOTOGP

https://hementeslimat.com

Tim Gresini MotoGP 2025 Diluncurkan: Alex Marquez Berambisi Catat Sejarah

Gresini Racing resmi meluncurkan tim mereka untuk ajang MotoGP 2025 pada Minggu (19/1/2025) tengah malam WIB. Dalam acara tersebut, tim memperkenalkan dua pembalap andalannya, Alex Marquez dan Fermin Aldeguer, yang siap menghadapi tantangan di musim balap yang akan datang. Dengan persiapan matang dan semangat tinggi, Gresini Racing memiliki optimisme besar untuk meraih hasil terbaik di ajang bergengsi ini.

Alex Marquez, yang telah bergabung dengan Gresini Racing, menyatakan keyakinannya bahwa tim ini memiliki peluang besar untuk meraih kemenangan pertama di kelas premier MotoGP. Marquez, yang sudah menjalani uji coba dengan Ducati Desmosedici GP24 pada Tes Pascamusim MotoGP Barcelona pada November 2024, merasa siap untuk menghadapi tantangan. “Saya pikir kami memiliki peluang bagus untuk mencapainya,” ungkap Marquez, seperti dilansir dari Motosan.

Lebih lanjut, Marquez menyampaikan bahwa seluruh elemen dalam tim saling mendukung dan bekerja keras untuk mencapai kesuksesan. Meskipun Gresini Racing merupakan tim yang lebih kecil, pembalap berusia 28 tahun ini yakin bahwa mereka memiliki potensi besar, mentalitas yang kuat, dan segala sumber daya yang dibutuhkan untuk berada di puncak. “Kami adalah tim kecil, tetapi kami memiliki potensi, mentalitas, dan segala yang diperlukan untuk menjadi yang teratas,” tambah Marquez.

Marquez juga menyadari bahwa setiap tim pasti menghadapi tantangan dan kekurangan di awal musim. Oleh karena itu, Gresini Racing telah mempersiapkan langkah-langkah untuk mengevaluasi dan memperbaiki kekurangan setelah beberapa seri pertama. “Tujuan kami adalah memulai pramusim yang solid dan mengevaluasi level kami setelah empat balapan pertama,” kata Marquez, yang telah berkompetisi di MotoGP sejak 2020.

Meskipun belum pernah meraih kemenangan di MotoGP sejak debutnya, dengan pencapaian terbaiknya sebagai runner-up di MotoGP Aragon 2020, Marquez tetap optimis untuk bisa mencapainya di musim 2025. Balapan pertama musim ini akan digelar di Sirkuit Internasional Buriram, Thailand, pada 28 Februari hingga 2 Maret 2025, dan menjadi ajang pembuka bagi Marquez dan Gresini Racing untuk menunjukkan kualitas dan kemampuan mereka.

Bagnaia dan Marquez: Kombinasi Sulit tapi Cepat ala Ducati

Senin mendatang, Ducati akan mengungkap susunan pembalapnya untuk musim MotoGP 2025. Dua nama besar, Francesco “Pecco” Bagnaia dan Marc Marquez, dipastikan akan menjadi bagian dari tim utama. Kombinasi ini dianggap sebagai salah satu duet terkuat dalam sejarah pabrikan asal Borgo Panigale.

Dengan delapan gelar juara dunia di kelas utama dan sebelas gelar di semua kategori, Bagnaia dan Marquez hampir setara dengan duet legendaris Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo dari Yamaha, yang mendominasi pada 2016. Namun, seperti halnya Rossi dan Lorenzo, kolaborasi Bagnaia dan Marquez diprediksi akan penuh tantangan.

CEO Ducati, Claudio Domenicali, mengakui bahwa mengelola dua pembalap dengan kaliber seperti ini bukan tugas yang mudah. “Pecco dan Marc adalah seperti pesawat supersonik: sulit dikendalikan, tetapi memiliki potensi luar biasa. Kombinasi mereka sangat gila,” ujarnya dalam acara Campioni in Festa di Bologna.

David Tardozzi, manajer tim Ducati, juga menyoroti tantangan dalam mengelola dua “monster balap” ini. Meski demikian, ia yakin Marquez adalah pembalap sekaligus pribadi yang luar biasa. “Marc tidak hanya hebat di lintasan, tetapi juga cerdas dan mampu memahami kebutuhan tim. Untuk menjadi pembalap hebat, Anda harus menjadi orang yang hebat juga,” jelas Tardozzi.

Giacomo Agostini, legenda balap dengan 15 gelar juara dunia, turut berkomentar tentang pasangan baru Ducati ini. Dalam acara penghargaan Caschi d’Oro 2024, ia menyatakan optimisme terhadap koeksistensi Bagnaia dan Marquez. “Musim depan akan sangat spektakuler dengan dua juara ini. Saya tidak melihat ada masalah besar dalam hubungan mereka,” katanya.

Dalam hal teknis, Ducati tetap mengandalkan keahlian manajer umum mereka, Luigi Dall’Igna. Menurut Dall’Igna, pengembangan motor akan tetap berada di tangan para teknisi, meskipun masukan dari pembalap tetap diperhitungkan. “Kami selalu mendengarkan komentar para rider, tetapi keputusan akhir ada pada teknisi. Dengan pendekatan ini, kami mampu menjaga harmoni di dalam tim,” jelasnya.

Kolaborasi antara Bagnaia dan Marquez diyakini akan membawa Ducati ke level baru dalam MotoGP. Namun, tantangan besar menanti, tidak hanya di lintasan, tetapi juga dalam menjaga keseimbangan di dalam tim. Semua mata akan tertuju pada Ducati saat mereka memulai perjalanan menuju musim 2025.

Honda Siap Meluncurkan Tim Baru Di MotoGP Tanpa Repsol Pada 1 Februari 2025

Honda Racing Corporation (HRC) mengumumkan bahwa mereka akan meluncurkan tim pabrikan baru di ajang MotoGP tanpa dukungan sponsor utama Repsol. Peluncuran ini dijadwalkan berlangsung pada 1 Februari 2025, menandai babak baru bagi Honda setelah berakhirnya kemitraan selama 30 tahun dengan Repsol.

Kemitraan antara Honda dan Repsol yang dimulai pada tahun 1995 telah menghasilkan banyak prestasi, termasuk 15 gelar juara dunia dan lebih dari 180 kemenangan di kelas utama MotoGP. Namun, dengan berakhirnya kontrak sponsor pada akhir musim 2024, Honda harus mencari alternatif baru untuk mendukung tim mereka. Ini menunjukkan bahwa meskipun sejarah kemitraan yang sukses, perubahan dalam dunia olahraga sering kali diperlukan untuk adaptasi dan pertumbuhan.

Sebagai langkah strategis, Honda dilaporkan telah menjalin kesepakatan dengan Castrol untuk menggantikan Repsol sebagai sponsor utama. Meskipun Castrol sebelumnya telah bermitra dengan tim LCR Honda, kesepakatan ini akan membawa logo Castrol ke motor pabrikan Honda di MotoGP. Ini mencerminkan upaya Honda untuk terus berinovasi dan mencari dukungan dari merek-merek terkemuka dalam industri otomotif.

Dengan peluncuran tim baru ini, Honda juga akan memperkenalkan desain livery baru yang mencerminkan identitas merek mereka tanpa kehadiran warna khas Repsol. Hal ini akan menjadi simbol perubahan dan harapan baru bagi tim setelah masa lalu yang panjang bersama sponsor sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa perubahan visual dapat menjadi bagian penting dari strategi pemasaran dan branding tim.

Kehilangan Repsol sebagai sponsor utama dapat mempengaruhi performa tim di musim mendatang. Namun, HRC optimis bahwa dengan dukungan Castrol dan strategi baru yang diterapkan, mereka dapat kembali bersaing di papan atas MotoGP. Ini mencerminkan harapan dan ambisi tim untuk mengembalikan kejayaan mereka di arena balap.

Para pembalap Honda, termasuk Joan Mir dan Luca Marini, menyatakan kesiapan mereka untuk menghadapi tantangan baru di musim 2025. Mereka percaya bahwa perubahan ini akan membawa motivasi tambahan untuk meraih hasil positif setelah beberapa tahun terakhir yang sulit. Ini menunjukkan pentingnya mentalitas positif dalam menghadapi perubahan besar dalam karir seorang atlet.

Dengan peluncuran tim baru tanpa Repsol pada 1 Februari 2025, Honda berharap dapat memulai era baru yang penuh harapan dalam ajang MotoGP. Semua pihak kini diajak untuk menyaksikan bagaimana perubahan ini akan mempengaruhi performa tim serta strategi yang diterapkan untuk mencapai kesuksesan di musim mendatang. Keberhasilan dalam adaptasi terhadap perubahan ini akan sangat menentukan masa depan Honda di dunia balap motor.

Marc Marquez Hadapi 5 Hambatan Berat untuk Juara MotoGP 2025, Rossi Jadi Ancaman Utama!

Marc Marquez menjadi salah satu pembalap yang paling dinantikan di MotoGP 2025. Dengan kepindahannya ke tim Ducati Lenovo, banyak yang berharap Marquez bisa kembali tampil dominan setelah musim 2024 yang cukup kompetitif. Namun, meskipun menunggangi motor yang lebih kompetitif, jalan Marquez menuju gelar juara MotoGP 2025 tak akan mulus. Ada beberapa hambatan yang harus ia hadapi di musim baru, dan berikut adalah lima tantangan terbesar yang bisa menghalangi impiannya.

1. Kehadiran Kepala Kru Baru

Setelah tiga tahun berturut-turut bekerja dengan kepala kru yang berbeda, Marc Marquez kini harus beradaptasi dengan Marco Rigamonti di Ducati. Rigamonti, yang sebelumnya bekerja dengan beberapa pembalap top seperti Enea Bastianini dan Johann Zarco, akan menjadi sosok yang membantunya menyesuaikan motor Ducati dengan gaya balapnya. Proses adaptasi ini bisa menjadi hambatan besar, karena Marquez harus menemukan chemistry dengan tim baru dalam waktu yang relatif singkat.

2. Pembuktian Diri di Ducati

Keputusan Ducati untuk memilih Marquez sebagai rider utama, meski juara dunia 2024 Jorge Martin lebih berprestasi, menambah beban mental pada Marquez. Ia harus membuktikan bahwa Ducati membuat keputusan yang tepat, dan menunjukkan bahwa dirinya layak untuk memimpin tim pabrikan. Tekanan untuk memberikan hasil yang memuaskan bisa menjadi penghalang besar bagi Marquez, yang harus menjaga konsentrasi dan performanya.

3. Tekanan dari Penggemar yang Penasaran

Marc Marquez sempat tampil luar biasa pada MotoGP 2019, dengan 12 kemenangan dari 19 balapan. Penonton kini bertanya-tanya apakah Marquez bisa mengulangi pencapaian gemilang tersebut di MotoGP 2025. Tekanan untuk memenuhi ekspektasi penggemar dan media bisa mengganggu fokusnya, mengingat harapan yang sangat tinggi untuk melihatnya kembali merajai sirkuit.

4. Persaingan dengan Francesco Bagnaia

Francesco Bagnaia, juara dunia MotoGP 2022, diprediksi akan kembali kuat di musim 2025 setelah mengalami musim yang penuh lika-liku di 2024. Bagnaia kini akan menjadi salah satu pesaing utama Marquez, terutama setelah Jorge Martin berpindah ke Aprilia. Potensi friksi dan intrik antara dua pembalap kelas dunia ini bisa menjadi faktor penentu dalam perebutan gelar, dengan keduanya memiliki ambisi besar untuk meraih kemenangan.

5. Rivalitas dengan Valentino Rossi

Kepindahan Marquez ke Ducati juga memunculkan kembali rivalitas yang tak terhindarkan dengan Valentino Rossi, legenda MotoGP asal Italia. Rossi, yang memiliki hubungan dekat dengan Ducati, bahkan terang-terangan ingin lebih sering hadir di sirkuit untuk memantau para pembalapnya. Kehadiran Rossi bisa menambah tekanan psikologis pada Marquez, yang ingin menyaingi jumlah gelar juara kelas utama yang dimiliki oleh The Doctor, yang saat ini unggul satu gelar dari Marquez.

Dengan segala rintangan ini, Marc Marquez harus bekerja ekstra keras untuk mewujudkan impian meraih gelar juara dunia MotoGP 2025. Namun, jika ia berhasil mengatasi tantangan-tantangan ini, musim depan bisa menjadi awal dari kebangkitan sang juara dunia enam kali ini.

Gigi Dall’Igna ke Honda: Membangun Motor Terbaik Butuh Waktu, Bukan Instan

Menjelang musim baru MotoGP 2025, Ducati memberikan peringatan kepada Honda mengenai tantangan besar yang akan mereka hadapi. Pabrikan asal Jepang tersebut masih kesulitan dalam merancang motor yang kompetitif. Bahkan, dalam musim lalu, Honda gagal menembus posisi lima besar klasemen, dengan pencapaian terbaik mereka hanya finis kedelapan.

Pencapaian Honda yang sedikit lebih baik di MotoGP 2024 diperoleh berkat Johann Zarco, pembalap andalan tim LCR Honda. Namun, hasil ini tetap jauh dari harapan, mengingat reputasi besar Honda di dunia balap motor.

Untuk meningkatkan performa motornya, Honda memutuskan untuk merekrut sejumlah mekanik top dari tim lain. Salah satunya adalah Romano Albesiano, yang dipanggil untuk bergabung dengan Honda setelah sukses bersama Aprilia. Meskipun diharapkan dapat membawa perubahan signifikan, tantangan besar menanti Albesiano, yang kini harus beradaptasi dengan budaya dan filosofi kerja yang berbeda di Honda.

Gigi Dall’Igna, bos tim Ducati, turut memberikan komentar mengenai situasi ini. Menurutnya, meskipun Albesiano memiliki kemungkinan besar dari segi finansial, proses untuk membangun motor yang kompetitif tidak bisa dilakukan dengan cepat. “Romano memiliki tantangan besar. Secara finansial, tentu dia punya peluang lebih besar, tetapi dia harus mengatasi perbedaan dalam mentalitas dan filosofi kerja di Honda,” ungkap Dall’Igna.

Dall’Igna juga menegaskan bahwa membangun tim yang solid dan motor yang cepat memerlukan waktu dan usaha yang tidak instan. “Butuh waktu untuk membangun dan menjalankan struktur. Anda harus punya orang yang bisa mengekspresikan ide, konsep, dan solusi baru. Semua itu tidak bisa dicapai dalam semalam,” tambah Dall’Igna, yang sudah berpengalaman membangun Ducati menjadi tim yang dominan di MotoGP.

Dengan musim MotoGP 2025 yang dimulai pada Maret mendatang, Honda dihadapkan pada tantangan berat untuk bisa kembali bersaing di level tertinggi. Balapan pembuka akan dimulai di MotoGP Thailand, yang menjadi ajang pembuktian bagi tim-tim papan atas, termasuk Honda yang tengah berusaha kembali ke jalur kemenangan.

Lucio Cecchinello Blak-blakan Tentang Perubahan Pendekatan Balap HRC Di MotoGP

Pada tanggal 1 Januari 2025, Lucio Cecchinello, manajer tim LCR Honda, berbicara terbuka mengenai perubahan signifikan dalam pendekatan balap Honda Racing Corporation (HRC) di MotoGP. Dalam wawancara tersebut, ia menjelaskan bagaimana tim berupaya untuk beradaptasi dengan tantangan baru di dunia balap motor yang semakin kompetitif.

Cecchinello mengungkapkan bahwa HRC telah mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan performa motor mereka, terutama setelah hasil yang kurang memuaskan di musim sebelumnya. “Kami menyadari bahwa kami harus berinvestasi lebih banyak dalam teknologi dan pengembangan mesin untuk bersaing dengan tim-tim lain,” ujarnya. Pendekatan ini mencerminkan kesadaran HRC akan pentingnya inovasi dalam mempertahankan posisi mereka di puncak kompetisi MotoGP.

Dalam pernyataannya, Cecchinello juga menekankan pentingnya kolaborasi antara tim teknis dan pembalap. Ia percaya bahwa komunikasi yang baik antara kedua pihak dapat membantu mengidentifikasi masalah dan menemukan solusi yang tepat. “Kami perlu mendengarkan masukan dari pembalap tentang performa motor agar dapat melakukan perbaikan yang diperlukan,” tambahnya. Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan sinergi yang lebih baik dalam tim.

Dengan masuknya pembalap baru Somkiat Chantra ke dalam tim LCR Honda, Cecchinello optimis bahwa perubahan ini akan membawa angin segar bagi tim. Chantra, yang sebelumnya tampil di Moto2, diharapkan dapat memberikan perspektif baru dan energi positif dalam tim. “Kami sangat senang menyambut Chantra dan yakin bahwa dia akan berkontribusi besar bagi kami,” ungkap Cecchinello.

Meskipun ada harapan baru, Cecchinello menyadari bahwa tantangan tetap ada. Persaingan di MotoGP semakin ketat dengan kemajuan teknologi dari rival-rival seperti Ducati dan Yamaha. “Kami harus tetap fokus dan bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa HRC harus terus beradaptasi dengan perubahan regulasi dan tuntutan pasar.

Dengan perubahan pendekatan yang diterapkan oleh HRC, semua pihak kini menantikan bagaimana hasilnya akan terlihat di musim 2025. Lucio Cecchinello berharap bahwa investasi dalam teknologi dan pengembangan serta kolaborasi yang lebih baik dengan pembalap akan membawa kesuksesan bagi LCR Honda. Musim baru ini menjadi kesempatan bagi tim untuk membuktikan diri dan bersaing kembali di puncak MotoGP.

Sejarah Penggunaan Nomor 0 di Formula 1: Siapa Saja yang Memakainya?

Nomor 0 dalam Formula 1 memang bukan hal yang umum ditemui, karena biasanya nomor 1 digunakan oleh juara dunia tahun sebelumnya. Namun, ada beberapa pembalap yang pernah memakai nomor ini dalam karier mereka. Meskipun nomor ini jarang terlihat, ada beberapa cerita menarik di balik penggunaannya dalam balapan F1.

Salah satu pembalap pertama yang mengenakan nomor 0 adalah Jody Scheckter pada tahun 1973. Pembalap asal Afrika Selatan ini menggunakan nomor tersebut dalam dua balapan Grand Prix, di Kanada dan Amerika Serikat, saat ia mengendarai mobil McLaren ketiga. Pada saat itu, nomor tersebut sebelumnya dipakai oleh Scheckter di CanAm Series dan Formula 5000. Meski hanya sesaat, nomor 0 cukup melekat pada Scheckter di balapan tersebut. Setelah itu, Scheckter melanjutkan kariernya dengan tim Tyrrell dan memilih nomor 3.

Namun, penggunaan nomor 0 menjadi lebih terkenal ketika pembalap Inggris, Damon Hill, menggunakannya pada tahun 1993 dan 1994. Hill menggunakan nomor 0 setelah juara dunia 1992, Nigel Mansell, pensiun dan meninggalkan nomor 1 kosong. Pada tahun itu, tim Williams diberi nomor 0 dan 2. Hill, yang sebelumnya tidak menginginkan nomor 0, akhirnya harus menggunakannya. Bahkan pada tahun berikutnya, Hill kembali diberikan nomor 0 setelah rekan setimnya, Alain Prost, memilih nomor 2 setelah menjadi juara dunia pada 1993.

Kisah Hill dengan nomor 0 juga menambah warna dalam sejarah F1. Dalam wawancara dengan F1 Nation, Hill mengatakan, “Mereka memberi saya nomor paling gila, yaitu nol. Nigel Mansell sudah tidak ada, tidak ada juara dunia, jadi mereka tidak bisa mengambil nomor 1.” Namun, setelah musim 1994 berakhir, Hill akhirnya bisa lepas dari nomor 0 ketika Michael Schumacher menjadi juara dunia dan mendapatkan hak untuk menggunakan nomor 1. Hill kemudian mendapatkan kesempatan memakai nomor 1 pada tahun 1997, setelah memenangkan Kejuaraan Dunia 1996.

Jumlah kemenangan yang diraih dengan nomor 0 cukup terbatas, hanya 9 kemenangan, semuanya diraih oleh Damon Hill pada musim 1993 dan 1994. Sejak saat itu, nomor 0 tidak lagi digunakan di Formula 1, dan nomor 1 kembali menjadi simbol bagi juara dunia.

David Alonso Semakin Mengagumi Marc Marquez dan Valentino Rossi Setelah Raih Juara Dunia Moto3 2024

Jakarta – Rider muda asal Spanyol, David Alonso, semakin mengagumi dua legenda MotoGP, Marc Marquez dan Valentino Rossi, setelah menorehkan prestasi gemilang dengan meraih gelar juara dunia Moto3 2024. Meskipun baru berusia 18 tahun, Alonso telah menarik perhatian banyak kalangan dengan penampilannya yang mengesankan sepanjang musim balap tahun ini.

Nama Alonso sering dikaitkan dengan dua nama besar dalam dunia balap, yakni Marc Marquez dan Valentino Rossi. Marquez, yang dikenal sebagai juara dunia MotoGP enam kali, beberapa kali memberikan pujian kepada Alonso, bahkan ada yang menyebutnya sebagai “murid” Marquez. Tak hanya itu, gaya berkendara Alonso yang agresif dan selebrasi khas di atas podium Moto3 2024 membuatnya sering dibandingkan dengan Rossi, yang terkenal dengan gaya balap dan selebrasi ikoniknya.

Puncak dari perjalanan Alonso musim ini adalah ketika ia berhasil meraih gelar juara dunia Moto3 2024, sebuah pencapaian yang tidak hanya mengangkat namanya, tetapi juga memecahkan rekor kemenangan Rossi di kelas 125cc. Keberhasilan ini semakin mempertegas potensi besar yang dimiliki oleh pebalap muda ini.

Menanggapi berbagai perbandingan dengan Marquez dan Rossi, Alonso mengungkapkan rasa terharunya. Setelah merasakan langsung apa rasanya menjadi juara dunia, Alonso menyadari betapa luar biasanya pencapaian yang telah diraih oleh Marquez dan Rossi. “Saya semakin terkejut dengan apa yang telah dicapai oleh Marc dan Valentino. Mereka sudah meraih begitu banyak kemenangan, dan untuk terus mempertahankan ambisi dan motivasi mereka selama bertahun-tahun, itu luar biasa,” ungkap Alonso dalam sebuah wawancara.

Menurut Alonso, setelah meraih gelar juara dunia, ia semakin sulit membayangkan bagaimana Marquez dan Rossi bisa tetap mempertahankan dominasi mereka begitu lama di dunia balap. Hal ini semakin membuatnya mengagumi kedua legenda tersebut. “Saya sangat menghargai adanya perbandingan antara saya dengan Rossi atau Marquez, tapi saya berusaha untuk tidak terlalu terbebani oleh hal tersebut. Saya tetap fokus pada apa yang saya lakukan,” tambah Alonso.

Alonso menegaskan bahwa pencapaiannya sebagai juara dunia Moto3 tidak membuatnya berhenti di situ saja. Sebaliknya, gelar ini justru memberinya motivasi tambahan untuk terus berkembang dan meraih sukses lebih besar di masa depan. “Sekarang saya merasa lebih termotivasi untuk terus berprestasi di masa mendatang. Pencapaian ini hanya langkah pertama, dan saya ingin melanjutkan perjuangan saya,” ujar Alonso.

Dengan motivasi dan potensi yang dimilikinya, David Alonso diprediksi akan menjadi salah satu bintang besar di masa depan MotoGP. Meskipun masih muda, keberhasilannya di Moto3 menunjukkan bahwa ia memiliki semua yang dibutuhkan untuk bersaing di level tertinggi dalam dunia balap motor.

‘Bagnaia Jadi Tolok Ukur Baru Pebalap MotoGP, Meski Gagal Raih Hat-Trick’

Musim ini, Francesco Bagnaia gagal meraih hat-trick juara dunia MotoGP setelah dikalahkan oleh Jorge Martin, yang berhasil meraih gelar juara dunia pertama kalinya. Meskipun begitu, Bos Ducati, Gigi Dall’Igna, tetap memandang Bagnaia sebagai salah satu pebalap terbaik yang pernah ada, dan menegaskan bahwa pebalap asal Italia tersebut tetap menjadi tolok ukur di ajang MotoGP.

Setelah meraih dua gelar juara dunia berturut-turut pada 2022 dan 2023, Bagnaia dipaksa menerima kenyataan harus puas finis sebagai runner-up pada musim 2024, dengan selisih 10 poin dari Martin. Meski begitu, prestasi Bagnaia tetap luar biasa. Ia berhasil memenangkan 11 balapan Grand Prix, menyamai rekor Valentino Rossi, dan hanya kalah dari Marc Marquez dalam hal jumlah kemenangan di era MotoGP. Angka kemenangan tersebut hampir empat kali lebih banyak daripada yang diraih Martin, yang mencatatkan tiga kemenangan musim ini.

Gigi Dall’Igna, yang menjabat sebagai Bos Ducati, tetap yakin bahwa Bagnaia merupakan pebalap terbaik di lintasan saat ini. Menurutnya, meskipun Martin tampil sangat cepat dan beberapa kali lebih unggul daripada Bagnaia di beberapa balapan, pebalap Ducati itu tetap memiliki keunggulan dalam hal visi balap yang lebih tajam dan pengalaman lebih banyak.

“Jorge Martin jelas sangat cepat, dan di beberapa balapan dia lebih unggul daripada Pecco. Namun, dalam banyak balapan lainnya, Pecco jelas lebih cepat,” ungkap Dall’Igna. “Selain itu, Pecco memiliki visi balapan yang lebih baik daripada para pesaing lainnya di MotoGP saat ini.”

Dall’Igna menambahkan bahwa meskipun Bagnaia tidak berhasil meraih gelar juara dunia untuk ketiga kalinya pada musim ini, pencapaiannya tetap luar biasa. Dengan dua gelar dunia yang sudah diraihnya, Bagnaia sudah masuk dalam jajaran pebalap legendaris. Bahkan, Dall’Igna meyakini bahwa Bagnaia masih akan menorehkan banyak sejarah dalam dunia balap motor.

“Pecco sudah memenangi dua kejuaraan dunia, dan tidak banyak pebalap yang mampu mencapai hal itu. Tahun ini, dia kembali berjuang untuk gelar juara ketiganya, dan itu sudah menunjukkan betapa hebatnya dia,” lanjut Dall’Igna.

Di mata Dall’Igna, Bagnaia tetap menjadi tolak ukur bagi pebalap-pebalap MotoGP lainnya. Meski gagal meraih hat-trick juara dunia, Bagnaia tetap dianggap sebagai salah satu pebalap terbaik di era modern ini, dan masih berpotensi untuk menorehkan prestasi gemilang di masa depan.

Tim Ducati Optimis Francesco Bagnaia Bakal Menggila Di MotoGP 2025

Pada 26 Desember 2024, Ducati menyatakan optimisme tinggi terhadap performa pembalap andalan mereka, Francesco Bagnaia, untuk MotoGP 2025. Tim pabrikan asal Italia ini yakin bahwa Bagnaia akan kembali tampil menggila dan bersaing ketat di jalur juara setelah pencapaian luar biasa yang diraihnya di musim sebelumnya. Ducati percaya bahwa dengan persiapan yang matang dan peningkatan teknologi, Bagnaia akan menjadi kekuatan yang tak terhentikan di musim depan.

Francesco Bagnaia telah membuktikan dirinya sebagai salah satu pembalap terbaik di MotoGP dalam beberapa tahun terakhir. Setelah meraih gelar juara dunia pada 2022, Bagnaia menunjukkan konsistensi tinggi di musim 2024. Ducati melihat potensi besar pada Bagnaia, dan mereka yakin bahwa pembalap asal Italia ini bisa membawa tim mereka meraih kemenangan lebih banyak pada musim 2025, berkat kedekatannya dengan motor Ducati dan pengalaman yang ia miliki.

Ducati mengungkapkan bahwa mereka telah bekerja keras dalam mengembangkan motor Desmosedici GP untuk musim 2025. Pabrikan asal Bologna ini mengaku telah membuat sejumlah pembaruan pada sektor aerodinamika, mesin, dan sistem elektronik yang akan semakin meningkatkan performa motor mereka. Dengan perkembangan tersebut, Ducati berharap motor yang lebih kompetitif ini akan memberi Bagnaia keunggulan dalam perebutan gelar juara dunia.

Francesco Bagnaia diperkirakan akan memanfaatkan pengalamannya di beberapa musim terakhir untuk tampil lebih tajam di MotoGP 2025. Dengan usia yang semakin matang, Bagnaia diyakini akan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan di trek, baik dalam hal strategi balap maupun mengelola tekanan saat bersaing untuk posisi terdepan. Ducati berharap pengalaman tersebut akan menjadi faktor penentu dalam perjuangan merebut gelar.

Bagnaia sendiri mengungkapkan tekadnya untuk kembali meraih kesuksesan besar bersama Ducati. Pembalap berusia 27 tahun ini berjanji akan memberikan yang terbaik di setiap balapan dan belajar dari pengalaman musim sebelumnya untuk mengatasi tantangan lebih besar di 2025. Bagnaia percaya bahwa dengan dukungan penuh dari tim Ducati, ia dapat kembali memperebutkan gelar juara dunia.

Dengan optimisme tinggi dari Ducati dan tekad kuat dari Francesco Bagnaia, musim 2025 diprediksi akan menjadi momen penting dalam karier pembalap Italia ini. Ducati yakin bahwa kombinasi dari motor yang lebih kompetitif dan pengalaman Bagnaia akan menghasilkan hasil yang luar biasa. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, Bagnaia bisa kembali meraih gelar juara dunia dan membawa Ducati menuju kesuksesan yang lebih besar di MotoGP.