Tag Archives: Badminton

https://hementeslimat.com

Taufik Hidayat Cemas dengan Kehebatan Pebulutangkis Muda China

JAKARTA – Wakil Ketua Umum PBSI, Taufik Hidayat, menyatakan kekagumannya terhadap penampilan tunggal putra muda China, Hu Zhe An, saat mengikuti turnamen King Cup 2024. Menurutnya, ini adalah sinyal bagi pemain tunggal putra Indonesia karena pemain muda berbakat mulai bermunculan.

Taufik Hidayat diundang untuk hadir dan bermain dalam turnamen hiburan bertajuk King Cup International Badminton Open yang berlangsung pada 27-29 Desember 2024 di Shenzhen, China. Turnamen yang khusus untuk sektor tunggal putra ini diikuti oleh delapan pemain dari peringkat 20 besar dunia dan menggunakan format knock-out.

Pengalaman Langsung

Dalam ajang tersebut, Taufik juga diundang untuk bermain dalam pertandingan eksibisi. Legenda bulu tangkis Indonesia ini bermain ganda bersama pemain tunggal putri tuan rumah, Chen Yu Fei, melawan pasangan Kunlavut Vitidsarn/Loh Kean Yew.

Selain berpartisipasi dalam pertandingan eksibisi, Taufik juga menyaksikan partai final yang mempertemukan Anders Antonsen melawan Hu Zhe An. Meski Hu kalah dari jagoan Denmark tersebut, penampilannya berhasil membuat Taufik terkesima.

“Saya awalnya tidak tahu siapa dia, tapi saya bertanya pada teman saya dan katanya dia Juara Dunia Junior. Dia bermain sangat baik di sini,” ujar Taufik, seperti dikutip dari akun Instagram resmi King Cup pada Rabu (1/1/2025).

“Saya melihat dia di final hari ini. Dia pemain yang bagus,” tambah peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 tersebut.

Kekhawatiran

Di sisi lain, kehadiran Hu Zhe An membuat Taufik merasa was-was. Sebagai Wakil Ketua Umum PBSI, Taufik merasa pemain muda China tersebut bisa menjadi ancaman serius bagi pemain-pemain Indonesia.

“Saya harus khawatir tentang posisi para pemain saya di Indonesia karena pemain muda sudah mulai berdatangan dari China,” ungkap Taufik.

Hu Zhe An memang tampil mengesankan dalam turnamen tersebut. Pemain berusia 18 tahun ini berhasil menumbangkan beberapa pemain senior seperti Loh Kean Yew dan Lakshya Sen, menunjukkan bahwa generasi muda China memiliki potensi besar untuk mendominasi dunia bulu tangkis di masa depan.

Potensi Ancaman

Penampilan gemilang Hu Zhe An di King Cup 2024 ini bukan hanya menunjukkan kemampuan individu, tetapi juga mencerminkan sistem pembinaan atlet yang kuat di China. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi PBSI untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan atlet muda di Indonesia agar mampu bersaing di kancah internasional.

Dengan semakin banyaknya pemain muda berbakat yang bermunculan dari berbagai negara, persaingan di dunia bulu tangkis pun semakin ketat. Untuk itu, Indonesia perlu terus mengembangkan dan membina para atlet muda agar tetap bisa bersaing dan mengharumkan nama bangsa di pentas dunia.

Taufik Hidayat berharap bahwa pengalamannya menyaksikan langsung penampilan Hu Zhe An bisa menjadi motivasi bagi para pemain muda Indonesia untuk terus berlatih dan meningkatkan kemampuan mereka. Sebab, hanya dengan kerja keras dan dedikasi tinggi, Indonesia bisa terus bersaing dan meraih prestasi gemilang di dunia bulu tangkis.

Jadwal Lengkap Turnamen Bulu Tangkis BWF 2025: Ayo, Dukung Para Pebulu Tangkis Indonesia!

Para pemain bulu tangkis terbaik dunia akan kembali beraksi di berbagai turnamen bergengsi pada tahun 2025. Dengan total 164 gelaran BWF sepanjang tahun, para atlet akan berlaga demi meraih gelar juara dan kebanggaan. Pemain andalan Indonesia tentunya juga akan berusaha keras untuk memberikan yang terbaik di setiap ajang.

Januari 2025:

Tahun dimulai dengan Malaysia Open 2025 (7-12 Januari), sebuah turnamen dengan level Super 1000. Ini diikuti oleh Estonian International (9-12 Januari), India Open (14-19 Januari, Super 750), Swedish Open (16-19 Januari), dan Indonesia Masters (21-26 Januari, Super 500).

Februari 2025:

Bulan Februari diawali dengan 15th Multi Alarm Hungarian Junior Championships (6-9 Februari). Turnamen ini diikuti oleh Oceania Mixed Team Championships (10-12 Februari), All Africa Mixed Team Championships (10-13 Februari), dan Badminton Asia Mixed Team Championships (11-16 Februari). Puncaknya adalah Singapore International Challenge (18-23 Februari) dan Uganda International Challenge (19-23 Februari).

Maret 2025:

All England Open 2025 (11-16 Maret, Super 1000) menjadi sorotan utama di bulan Maret. Selain itu, turnamen lain seperti German Junior (5-9 Maret), Portugal International Championships (5-9 Maret), dan Swiss Open (18-23 Maret, Super 300) juga akan menjadi ajang pertarungan para pemain bulu tangkis.

April 2025:

Turnamen Badminton Asia Championships dan European Championships (8-13 April) menjadi dua ajang besar di bulan April. Bulan ini juga menyaksikan berlangsungnya Sudirman Cup Finals (27 April-4 Mei), yang merupakan turnamen beregu campuran yang prestisius.

Mei 2025:

Indonesia Open 2025 (3-8 Juni, Super 1000) menjadi salah satu turnamen yang paling dinantikan di bulan Juni. Selain itu, Luxembourg Open (1-4 Mei), Taipei Open (6-11 Mei, Super 300), dan Thailand Open (13-18 Mei, Super 500) juga akan menarik perhatian banyak penggemar bulu tangkis.

Juli 2025:

Pada bulan Juli, Canada Open (1-6 Juli, Super 500) dan Japan Open (15-20 Juli, Super 750) menjadi dua ajang utama. Pan Am Junior Championships (10-18 Juli) juga menjadi turnamen penting bagi para pemain muda.

Agustus 2025:

Bulan Agustus menghadirkan beberapa turnamen besar seperti Sri Lanka Junior International Series (5-10 Agustus) dan BWF World Championships (25-31 Agustus). Turnamen ini menjadi kesempatan emas bagi para pemain untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

September 2025:

China Masters (2-7 September, Super 100) dan Hong Kong Open (9-14 September, Super 500) menjadi sorotan di bulan September. Selain itu, BWF World Senior Championships (7-14 September) juga akan diadakan untuk para pemain senior.

Oktober 2025:

Denmark Open (14-19 Oktober, Super 750) dan French Open (21-26 Oktober, Super 750) menjadi dua turnamen besar di bulan Oktober. Turnamen-turnamen ini akan menjadi ajang pertarungan para pemain papan atas dunia.

November 2025:

Korea Masters (4-9 November, Super 300) dan Australian Open (18-23 November, Super 500) menjadi dua ajang utama di bulan November. Selain itu, Syed Modi India International (25-30 November, Super 300) juga akan menjadi ajang yang menarik.

Desember 2025:

Tahun ini ditutup dengan BWF World Tour Finals (10-14 Desember), yang merupakan turnamen puncak untuk para pemain terbaik dunia. Sebelumnya, turnamen seperti Miryang Korea Junior International Challenge (1-7 Desember) dan Canadian International Challenge (2-7 Desember) juga akan berlangsung.

Dengan jadwal yang begitu padat, tahun 2025 akan menjadi tahun yang penuh aksi dan persaingan ketat di dunia bulu tangkis. Para pemain akan berjuang keras untuk meraih prestasi dan mengharumkan nama negara mereka di kancah internasional.

Gonta-Ganti Pelatih, Ganda Putra Malaysia Hanya Bisa Pasrah Hadapi Kepergian Pelatih Tan Bin Shen

Ganda putra Malaysia, Aaron Chia dan Soh Wooi Yik, menyatakan dukungan terhadap keputusan pelatih mereka, Tan Bin Shen, yang memilih untuk meninggalkan pelatnas Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (BAM). Kepergian Tan, yang masa kontraknya berakhir pada 13 Januari 2025, mengejutkan pasangan juara dunia 2022 tersebut, yang tengah berjuang keras di tengah kompetisi ganda putra yang semakin ketat.

Keputusan Tan untuk hengkang dari BAM dan bergabung dengan pelatnas Hong Kong datang setelah Chia dan Soh berjuang keras di ajang BWF World Tour Finals 2024, di mana mereka gagal lolos dari fase grup untuk kelima kalinya. Mendengar kabar tersebut setelah turnamen, Chia mengungkapkan bahwa mereka tidak memiliki banyak komentar terkait keputusan tersebut.

“Saya tidak ingin membicarakan terlalu banyak tentang ini karena pelatih datang dan pergi. Kami menghormati dan menerima keputusan tersebut. Saya rasa pelatih memiliki tujuan yang ingin dicapai. Kami akan menunggu pengumuman pelatih baru dan terus maju,” ujar Aaron Chia dalam wawancaranya dengan New Straits Times.

Kepergian Tan menandai pergantian pelatih keempat yang dialami Chia/Soh dalam empat tahun terakhir. Sebelumnya, mereka telah dilatih oleh Tan Bin Shen, Flandy Limpele, dan Paulus Firman. Mengenai pelatih baru, BAM diketahui sedang mendiskusikan calon yang cocok untuk menggantikan Tan. Namun, Chia memilih untuk tidak berkomentar banyak mengenai hal tersebut.

“Bukan urusan saya untuk membahas siapa pelatih baru. Biarkan BAM yang mengumumkan saat yang tepat karena pelatih baru nanti tidak hanya akan bekerja dengan kami, tetapi juga dengan pasangan ganda lainnya,” kata Chia.

Berdasarkan kabar yang beredar, ada tiga nama pelatih yang menjadi incaran BAM, dua di antaranya berasal dari Indonesia. Flandy Limpele, yang tidak memperpanjang kontraknya dengan Hong Kong, disebut-sebut sebagai salah satu kandidat utama. Selain itu, sosok legendaris Herry Iman Pierngadi (Herry IP), yang juga tidak diperpanjang masa baktinya di Pelatnas PBSI, juga diincar. Nama ketiga yang muncul adalah Mathias Boe, mantan pemain ganda putra nomor satu asal Denmark, yang dikabarkan memiliki hubungan dekat dengan Kenneth Jonassen, pelatih tunggal Malaysia yang baru.

Namun, masa depan Boe masih belum pasti, mengingat dirinya baru saja mundur dari pelatnas India, dengan alasan berencana pensiun dari dunia pelatihan.

Pergantian pelatih yang sering terjadi dalam waktu singkat tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Chia/Soh dalam menjaga konsistensi dan performa mereka. Mereka berharap pelatih baru yang datang dapat membantu meningkatkan kualitas permainan mereka, serta membimbing pasangan ganda muda yang ada di pelatnas Malaysia.

Jonatan Christie Raih Hadiah Fantastis Meski Kalah di Semifinal BWF World Tour Finals 2024

Jonatan Christie, meskipun gagal melaju ke final BWF World Tour Finals 2024, tetap membawa pulang hadiah yang sangat fantastis. Pebulutangkis tunggal putra Indonesia ini mendapat hadiah uang tunai senilai 50 ribu Dolar AS, atau setara dengan Rp801,6 juta. Hadiah ini dia dapatkan berkat pencapaiannya yang luar biasa, lolos hingga semifinal meski pada akhirnya kalah dari Shi Yu Qi.

BWF World Tour Finals, yang menjadi ajang penutupan akhir tahun untuk para pebulutangkis terbaik dunia, memberikan penghargaan yang besar bagi para peserta, tidak terkecuali Jonatan Christie. Bahkan, meski gagal meraih juara, pencapaian Jonatan yang berhasil sampai di semifinal sudah cukup membuktikan kualitasnya di level dunia.

Selain Jonatan, ada juga beberapa wakil Indonesia lainnya yang tampil di ajang bergengsi ini, antara lain Gregoria Mariska Tunjung di sektor tunggal putri, serta Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani di ganda putra. Sayangnya, meskipun ada banyak perwakilan di berbagai sektor, tidak ada satu pun yang berhasil menembus babak final.

Namun, ini bukan berarti perjuangan mereka sia-sia. BWF telah menyiapkan hadiah total sebesar 2,5 juta Dolar AS (sekitar Rp40 miliar) untuk para peserta. Semua wakil Indonesia yang berhasil lolos hingga babak semifinal tetap mendapatkan bagian mereka. Fajar/Rian dan Sabar/Reza yang bertanding di nomor ganda putra mendapat hadiah masing-masing 50 ribu Dolar AS, namun karena mereka berpasangan, hadiah ini harus dibagi dua.

Meski demikian, Jonatan Christie menjadi pemenang hadiah terbesar di antara perwakilan Indonesia lainnya. Dengan statusnya sebagai pemain tunggal, seluruh hadiah 50 ribu Dolar AS menjadi miliknya sendiri. Ini menjadi bukti bahwa meskipun ia gagal meraih juara, pencapaiannya di turnamen ini tetap sangat dihargai.

Selain itu, Gregoria Mariska, yang berhasil melangkah ke perempat final, memperoleh hadiah sebesar 27.500 Dolar AS (sekitar Rp440,89 juta). Pasangan ganda lainnya, Dejan Ferdinansyah/Gloria Emanuelle Widjaja dan Febriana Dwipuji Kusuma/Amallia Cahaya Pertiwi, masing-masing mendapat hadiah 32.500 Dolar AS (sekitar Rp520,54 juta).

Bagi Jonatan, meskipun tak berhasil meraih titel juara di ajang BWF World Tour Finals 2024, hadiah yang diterimanya tetap menunjukkan betapa tingginya kompetisi yang dia hadapi dan kualitasnya sebagai salah satu pebulutangkis terbaik Indonesia. Hadiah ini pun menjadi bukti bahwa meskipun belum meraih kemenangan utama, prestasi yang diperoleh Jonatan tetap diapresiasi dengan jumlah yang fantastis.

Dengan pencapaian tersebut, Jonatan dan rekan-rekannya kini semakin termotivasi untuk terus berjuang dalam turnamen-turnamen mendatang. Dan meskipun tahun 2024 telah berakhir dengan sedikit kekecewaan, hadiah yang didapat di BWF World Tour Finals 2024 menjadi semangat baru untuk menghadapi tahun 2025 dengan tekad yang lebih kuat.

Jafar Hidayatullah Sambut Positif Kehadiran Dejan/Fadia di Ganda Campuran Pelatnas PBSI

JAKARTA – Dunia bulutangkis Indonesia kembali dimeriahkan dengan kedatangan pasangan baru di sektor ganda campuran, Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Kehadiran mereka memicu persaingan yang semakin ketat di Pelatnas PBSI. Namun, bagi Jafar Hidayatullah, salah satu pemain andalan Indonesia di sektor ganda campuran, kehadiran Dejan dan Fadia justru disambut dengan antusiasme dan semangat yang tinggi.

Sebagai pemain yang telah lebih dulu berkecimpung di Pelatnas, Jafar merasa bahwa persaingan yang semakin ketat di sektor ganda campuran justru memberikan dampak positif bagi dirinya dan rekan-rekannya. “Pastinya ada tambahan motivasi, lebih banyak sparring baru, jadi latihan pun jadi lebih seru,” ujarnya kepada awak media, menanggapi kedatangan pasangan Dejan/Fadia yang baru saja bergabung.

Dejan Ferdinansyah, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai pemain ganda putra, kini bergabung dalam tim ganda campuran, berpasangan dengan Fadia, yang sebelumnya lebih fokus bermain di sektor ganda putri. Kehadiran pasangan baru ini tentu menambah dinamika dalam skuad ganda campuran Indonesia yang semakin beragam.

Jafar pun mengakui bahwa pasangan baru tersebut membawa suasana baru yang segar dalam tim. “Apalagi Dejan dan Fadia bakal main ganda campuran juga, jadi terasa ada semangat baru,” ungkap Jafar. Meskipun persaingan semakin sengit, Jafar tetap merasa optimis dan tidak khawatir dengan kehadiran mereka. Justru, ia merasa lebih termotivasi untuk terus berkembang dan menunjukkan kemampuannya.

Sebagai pasangan ganda campuran yang sudah terbukti dengan prestasi apik di tahun 2024, Jafar dan rekannya, Felisha Alberta, berhasil meraih tiga gelar sejak dipasangkan pada pertengahan tahun ini. Prestasi tersebut semakin menambah keyakinan Jafar untuk terus berkembang di tahun 2025. “Kami ingin membuktikan lebih banyak lagi. Tahun depan kami akan bekerja lebih keras, berlatih lebih disiplin, agar bisa menunjukkan yang terbaik kepada pelatih dan Indonesia,” katanya penuh semangat.

Jafar dan Felisha merupakan pasangan yang saling melengkapi, dengan kemampuan masing-masing yang terus berkembang. Pada 2025, mereka berharap dapat berbicara lebih banyak di ajang-ajang internasional dan mempersembahkan prestasi gemilang bagi bangsa Indonesia.

Sebagai pemain muda dengan semangat juang yang tinggi, Jafar bertekad untuk menjadi bagian dari tim ganda campuran terbaik yang dimiliki Indonesia. Persaingan yang semakin ketat justru membuatnya semakin bersemangat untuk berlatih lebih keras dan membuktikan bahwa mereka siap menghadapi tantangan di tahun 2025. Dengan kehadiran pasangan baru dan semangat baru yang mengiringi tim ganda campuran Indonesia, masa depan bulutangkis Indonesia di kancah internasional semakin cerah.

Ardy B Wiranata: Legenda Bulu Tangkis Peraih Medali Olimpiade yang Melepas Status WNI

Ardy B Wiranata, nama yang tak asing di dunia bulutangkis, adalah sosok legendaris yang telah mengukir banyak prestasi gemilang. Kiprahnya yang luar biasa di dunia bulutangkis telah membawa nama Indonesia bersinar di kancah internasional. Namun, keputusan besar dalam hidupnya membuatnya memilih untuk melepas status warga negara Indonesia (WNI) dan beralih menjadi warga negara Kanada.

Ardy B Wiranata, lahir pada 10 Februari 1970, mulai menunjukkan bakat luar biasa di bulutangkis sejak usia muda. Selama kariernya, Ardy menjadi salah satu pemain andalan Indonesia di sektor tunggal putra. Prestasi puncaknya tercatat saat ia berhasil meraih medali perak di Olimpiade Barcelona 1992. Ini adalah pencapaian yang sangat membanggakan bagi Indonesia.

Pada Olimpiade Barcelona 1992, Ardy tampil gemilang dan berhasil melaju hingga babak final. Namun, di partai puncak, ia harus berhadapan dengan sesama pemain Indonesia, Alan Budikusuma. Pertarungan tersebut menjadi salah satu momen bersejarah bagi bulutangkis Indonesia. Meskipun Ardy kalah dalam dua gim langsung dengan skor 2-15 dan 13-18, perolehannya tetap mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain terbaik di dunia.

Selain prestasinya di Olimpiade, Ardy juga mencatatkan banyak kemenangan di turnamen internasional lainnya. Ia meraih gelar di berbagai ajang bergengsi seperti All England dan World Championships. Dedikasinya dan semangatnya di lapangan telah menginspirasi banyak generasi muda untuk mengikuti jejaknya.

Namun, di balik semua prestasi gemilangnya, Ardy mengambil keputusan yang cukup mengejutkan. Ia memutuskan untuk pindah kewarganegaraan dari Indonesia ke Kanada. Keputusan ini tentu saja menimbulkan berbagai spekulasi dan reaksi dari publik. Meskipun begitu, Ardy tetap menunjukkan kecintaannya pada bulutangkis Indonesia.

Setelah menjadi warga negara Kanada, Ardy tetap aktif memantau perkembangan bulutangkis Indonesia. Ia sering kali memberikan pandangannya tentang para pemain tunggal putra Indonesia, seperti Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting. Ardy mengungkapkan kebanggaannya terhadap kemajuan dan prestasi yang telah dicapai oleh para pemain muda tersebut.

Ardy juga berkontribusi dalam pengembangan bulutangkis di Kanada. Dengan pengalaman dan pengetahuannya yang mendalam, ia membantu melatih dan membimbing para pemain muda di sana. Dedikasinya terhadap bulutangkis tak pernah pudar, dan ia terus berupaya untuk memajukan olahraga ini di negara barunya.

Kisah hidup Ardy B Wiranata adalah bukti bahwa dedikasi dan cinta terhadap olahraga bisa melampaui batas-batas kewarganegaraan. Keputusannya untuk pindah ke Kanada bukan berarti melupakan tanah kelahirannya. Sebaliknya, ia terus menjaga hubungan dengan Indonesia dan tetap berkontribusi dalam cara yang berbeda.

Ardy B Wiranata adalah teladan bagi generasi muda, baik di Indonesia maupun di Kanada. Kisahnya mengajarkan bahwa prestasi besar selalu diiringi dengan pilihan-pilihan besar dalam hidup. Ardy telah membuktikan bahwa di mana pun berada, semangat juara dan kecintaan terhadap bulutangkis tetap berkobar.

Sebagai penutup, perjalanan Ardy B Wiranata dalam dunia bulutangkis adalah sebuah legenda yang akan selalu dikenang. Prestasinya di Olimpiade dan berbagai turnamen internasional, serta keputusannya untuk beralih kewarganegaraan, menambah warna dalam kisah hidupnya. Ardy adalah simbol semangat dan dedikasi, tidak hanya bagi para atlet, tetapi juga bagi kita semua yang terus berjuang mencapai mimpi dan cita-cita.

Kolaborasi Mengejutkan: Pemain Korea yang ‘Dibuang’ Asosiasi Duet dengan Peraih Perak Olimpiade Malaysia

Mantan peraih medali perak Olimpiade Rio 2016, Goh V Shem, terus menunjukkan semangatnya untuk kembali bersaing di kancah bulu tangkis internasional. Pada usia 35 tahun, Goh memutuskan untuk mencoba tantangan baru dengan berpasangan bersama pemain asal Korea Selatan, Choi Sol-gyu.

Choi, yang kini berusia 29 tahun, sebelumnya meraih medali perak Asian Games 2022 di Hangzhou bersama Kim Won-ho. Selain itu, ia telah mengukir prestasi di sektor ganda putra dan ganda campuran, mengantongi empat gelar World Tour.

Perjalanan Karier Choi yang Berliku

Meskipun sukses di lapangan, perjalanan Choi tidak selalu mulus. Pada Juli 2023, ia sempat tersandung masalah disiplin karena terlambat datang latihan setelah keluar malam bersama teman-temannya. Insiden ini hampir membuatnya dikeluarkan dari tim nasional Korea Selatan.

Selain itu, ada kabar bahwa Choi membawa pacarnya ke asrama tim, yang memicu kontroversi lebih lanjut. Meski demikian, Choi mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan berjanji untuk memberikan yang terbaik. Ia akhirnya tetap diberangkatkan ke Asian Games 2022, meskipun hanya tampil di nomor ganda putra.

Setelah absen sekitar satu tahun dari turnamen internasional, Choi kembali ke kompetisi melalui Korea Open 2024, berpasangan dengan Heo Kwang-hee, sahabatnya sekaligus pemain tunggal putra Korea. Mereka berhasil mencapai perempat final sebelum dihentikan pasangan Indonesia, Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana.

Kolaborasi Baru Goh dan Choi

Goh V Shem terakhir kali memenangkan gelar pada Chinese Taipei Open 2019 bersama Tan Wee Kiong. Setelah beberapa kali berganti pasangan, Goh kini memulai perjalanan baru dengan Choi Sol-gyu.

Keduanya telah mendaftarkan diri untuk Malaysia Open 2025, yang akan menjadi turnamen pertama mereka sebagai pasangan. Kolaborasi ini terjadi atas dukungan sponsor mereka, Felet.

“Semua bermula di Macau Open, ketika Sol-gyu mencoba beberapa raket Felet dan menyukainya. Setelah itu, sponsor berbicara kepada saya untuk menjajaki kemitraan ini,” ujar Goh, dilansir dari The Star.

Goh optimis dengan kombinasi gaya bermain mereka. “Saya cukup baik di lapangan belakang, sementara Sol-gyu mendominasi di lapangan depan. Saya pikir ini akan menjadi peluang besar untuk kembali ke level atas,” tambahnya.

Tantangan dan Harapan

Kolaborasi ini menjadi pengalaman pertama Goh bekerja sama dengan pemain asing di turnamen internasional. Sebelumnya, ia hanya pernah bermain di liga profesional India bersama mendiang Markis Kido, legenda bulu tangkis Indonesia.

Goh mengakui bahwa mereka belum memiliki kesempatan untuk berlatih bersama secara intens. “Kami masih berlatih secara terpisah untuk saat ini. Namun, saya yakin komunikasi bukan masalah besar. Yang penting adalah membangun chemistry di lapangan,” katanya.

Goh berharap kerja sama ini akan membuka peluang untuk tampil lebih kompetitif di tahun mendatang. “Saya masih memiliki semangat untuk bermain dan berharap dapat menunjukkan performa terbaik dengan Sol-gyu,” pungkasnya.

16 Wakil Badminton Indonesia Di Kumamoto Masters Japan 2024

Pada 13 November 2024, Federasi Badminton Indonesia (PBSI) mengumumkan bahwa Indonesia akan mengirimkan 16 wakil untuk berlaga di turnamen Kumamoto Masters Japan 2024. Turnamen yang digelar di Kumamoto, Jepang, ini merupakan ajang penting dalam kalender BWF (Badminton World Federation) yang menarik perhatian para pemain top dunia. Indonesia, yang dikenal memiliki tradisi kuat di bulu tangkis, berharap dapat meraih hasil optimal dalam kompetisi ini.

Tim Indonesia yang akan berlaga di Kumamoto Masters terdiri dari pemain-pemain terbaik di berbagai nomor, baik tunggal maupun ganda. Beberapa nama besar seperti Anthony Sinisuka Ginting, Jonatan Christie, dan Greysia Polii di ganda putri, akan memimpin tim Indonesia. Selain itu, pasangan-pasangan muda yang sedang naik daun juga dipersiapkan untuk menunjukkan kualitas mereka di level internasional. Komposisi tim ini menunjukkan kedalaman pemain yang dimiliki Indonesia di semua sektor.

Kumamoto Masters 2024 diprediksi akan menjadi ajang persaingan ketat, dengan kehadiran pemain-pemain unggulan dari berbagai negara. Indonesia sendiri menargetkan untuk dapat meraih podium di beberapa kategori, terutama di nomor ganda campuran dan ganda putra, yang selama ini menjadi kekuatan utama Indonesia di dunia bulu tangkis. Tim Indonesia diharapkan bisa memanfaatkan pengalaman dan strategi mereka untuk mengatasi lawan-lawannya yang juga datang dengan kekuatan penuh.

Selain melibatkan pemain senior, turnamen ini juga menjadi ajang uji coba bagi beberapa pemain muda Indonesia. Mereka diharapkan dapat mengambil pelajaran berharga dari pertandingan tingkat tinggi ini, dengan harapan dapat tampil lebih baik di turnamen-turnamen berikutnya. Dengan dukungan dari pelatih dan persiapan matang, tim Indonesia optimis dapat meraih hasil yang memuaskan di Kumamoto Masters 2024 dan terus mengukir prestasi di kancah bulu tangkis internasional.

Pelatih Akui Ganda Putra No.1 Malaysia Alami Penurunan, Diminta Bangkit Pasca-Olimpiade Paris

Pelatih tim ganda putra nasional Malaysia, Tan Bin Shen, meminta Aaron Chia dan Soh Wooi Yik untuk segera meningkatkan kualitas permainan mereka. Menurut Tan, masa pemulihan pasca-Olimpiade Paris 2024 bagi pasangan peringkat teratas Malaysia ini telah usai.

Setelah berhasil membawa pulang medali perunggu kedua mereka di Olimpiade Paris pada Agustus lalu, Chia/Soh mengalami kesulitan mempertahankan ritme permainan. Performa mereka belakangan ini belum memuaskan, dengan pencapaian tertinggi hanya mencapai babak 16 besar di Arctic Open 2024 di Finlandia dan perempat final di Denmark Open.

Chia/Soh gagal mempertahankan gelar juara yang mereka raih tahun lalu, dan meski cedera jari kaki yang dialami Soh mungkin menjadi salah satu penyebab, Tan meyakini mereka masih memiliki potensi untuk bermain lebih baik.

Dalam pernyataannya, Tan menyoroti bahwa pasangan ganda putra Malaysia lainnya, Goh Sze Fei dan Nur Izzuddin Rumsani, saat ini justru tampil lebih konsisten. Pasangan ini berhasil meraih gelar di Japan Open, China Open, dan Arctic Open 2024.

“Melihat performa saat ini, Izzuddin dan Sze Fei adalah pasangan terbaik di Malaysia,” ujar Bin Shen dari Akademi Bulu Tangkis Malaysia di Bukit Kiara, seperti dilaporkan News Straits Times. “Bahkan secara global, mereka menjadi sorotan di antara pasangan yang tidak berkompetisi di Olimpiade. Mereka telah memanfaatkan kesempatan dengan baik.”

Target Tan Bin Shen untuk Aaron Chia/Soh Wooi Yik: Fokus dan Konsistensi

Untuk memperbaiki peringkat mereka, Tan telah mendaftarkan Chia/Soh di tiga turnamen mendatang, yakni Korea Masters, Kumamoto Masters di Jepang, dan China Masters. Harapannya jelas: mereka harus menunjukkan performa optimal, bukan sekadar berpartisipasi.

“Setelah Olimpiade, Aaron dan Wooi Yik memang memerlukan waktu untuk pemulihan, dan cedera Wooi Yik menambah tantangan,” kata Tan. “Namun, mereka hanya berkompetisi di dua turnamen sejak Paris dan tampil di bawah standar mereka.”

Tan menyatakan bahwa, meski mereka pantas beristirahat setelah persiapan panjang Olimpiade, waktu istirahat itu sudah harus berakhir. “Kami berada di titik krusial. Penting bagi mereka untuk kembali fokus dan mengincar hasil maksimal. Mengikuti turnamen tanpa tujuan yang jelas bukanlah pilihan. Saya ingin mereka segera kembali ke performa terbaiknya.”

Urgensi Mempertahankan Peringkat Dunia

Aaron dan Wooi Yik, yang saat ini berada di peringkat ke-12 klasemen World Tour, menghadapi risiko tergelincir dari posisi delapan besar dunia. Mereka masih memiliki peluang matematis untuk lolos ke BWF World Tour Finals 2024, namun setidaknya harus memenangkan salah satu dari tiga turnamen yang akan mereka ikuti bulan depan.

Peringkat dunia mereka sangat penting untuk menentukan undian turnamen pada tahun mendatang, yang dapat mempengaruhi peluang mereka di panggung internasional.

Kisah Zheng Siwei/Huang Yaqiong, Ganda Campuran Dunia Nomor 1 yang Makin Ganas Usai CLBK

Kisah pasangan ganda campuran top dunia, Zheng Siwei dan Huang Yaqiong, sangat menarik untuk diulas. Pasangan bulutangkis asal China ini menjadi semakin tangguh setelah mereka kembali dipasangkan pada 2022.

Saat ini, China memang mendominasi hampir semua sektor bulutangkis dunia, dan sektor ganda campuran menjadi salah satu yang paling tak tergoyahkan. Posisi puncak sektor ini dipegang oleh pasangan Zheng Siwei/Huang Yaqiong yang kokoh bertahan di peringkat 1 BWF.

Zheng Siwei dan Huang Yaqiong awalnya di gabungkan waktu november 2017. Dengan cepat, mereka melejit ke peringkat teratas BWF, hanya butuh waktu kurang dari satu tahun untuk mencapai posisi nomor 1 dunia. Pada minggu ke-32 tahun 2018, mereka resmi menduduki puncak peringkat dunia setelah meraih berbagai gelar penting, termasuk emas di Asian Games 2018.

Namun, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Pada 2022, pasangan ini sempat dipisahkan untuk dua turnamen, yaitu German Open 2022 dan Korea Masters 2022. Saat itu, Zheng Siwei dipasangkan dengan pemain muda Zhang Shu Xian, sedangkan Huang Yaqiong bertandem dengan Ou Xuan Yi. Meskipun hasil yang diperoleh tidak buruk, kinerja mereka kurang optimal dibandingkan ketika bersama.

Pada April 2022, Zheng Siwei dan Huang Yaqiong akhirnya dipasangkan kembali. Pengalaman bermain dengan tandem baru ternyata memberi mereka perspektif berbeda, yang membuat keduanya semakin solid. Hasilnya luar biasa: mereka memenangkan lima turnamen berturut-turut, dengan rekor 25 kemenangan tanpa kalah. Turnamen seperti Kejuaraan Asia, Thailand Open, Indonesia Masters, Indonesia Open, dan Malaysia Open menjadi saksi kekuatan baru pasangan ini.

Setelah reuni mereka, Zheng Siwei dan Huang Yaqiong semakin kokoh di peringkat 1 dunia. Pasangan ini terus mencetak prestasi hingga yang terbaru adalah meraih medali emas di Olimpiade Paris 2024.

Dengan pencapaian ini, Zheng Siwei dan Huang Yaqiong telah melengkapi koleksi gelar mereka, mulai dari turnamen BWF seperti All England, Kejuaraan Dunia, BWF World Tour Finals, Asian Games, hingga Olimpiade, menjadikan mereka salah satu pasangan ganda campuran terbaik dalam sejarah bulutangkis dunia.