Tag Archives: Valentino Rossi

https://hementeslimat.com

Rivalitas Panas Rossi dan Marquez: Stoner Sebut Rossi Salah Perhitungan

Casey Stoner, mantan juara dunia MotoGP, memberikan pandangan menarik soal rivalitas panas antara Valentino Rossi dan Marc Marquez. Menurutnya, Rossi salah langkah saat mencoba menggunakan perang psikologi untuk menghadapi Marquez. Pasalnya, strategi tersebut justru berbalik menjadi bumerang.

1. Strategi yang Keliru
Rivalitas Valentino Rossi dan Marc Marquez memang menjadi cerita tak terlupakan dalam sejarah MotoGP, terutama setelah insiden kontroversial di musim 2015. Casey Stoner menyebut, Rossi salah perhitungan dengan mencoba “menggertak” Marquez, pembalap muda asal Spanyol yang justru berani melawan.

“Jika Anda tahu seorang pembalap agresif dan tidak takut mengambil risiko, jangan mencoba menakutinya. Anda tidak akan berhasil melakukannya terhadap orang seperti Marquez,” ungkap Stoner dalam wawancara dengan Crash, Minggu (19/1/2025).

Menurut Stoner, langkah Rossi di musim 2015, terutama saat konflik di Sepang, justru menjadi kesalahan besar. “Dia (Rossi) mengusik pembalap yang paling sulit diusik di grid. Marquez adalah seseorang yang mampu mengalahkannya, lebih cepat, dan juga cukup tangguh untuk keluar dari tekanan itu,” tambahnya.

2. Pola Lama yang Tidak Efektif
Stoner juga menyoroti pola psikologis yang sering digunakan Rossi terhadap lawan-lawannya di masa lalu. Taktik tersebut mungkin berhasil melawan pembalap lain seperti dirinya, Dani Pedrosa, atau Jorge Lorenzo. Namun, hal ini tidak berlaku terhadap generasi baru, termasuk Marquez.

“Sebelum saya, Dani, dan Jorge datang, Valentino terbiasa memainkan permainan psikologi dengan mudah. Tapi kami belajar dari trik-triknya dan mulai memahami cara menghadapinya,” ujar Stoner.

Stoner menilai, saat Rossi mencoba menggunakan taktik lama terhadap Marquez, ia justru kehilangan kendali. Perang kata-kata di media dan insiden di lintasan hanya memperburuk situasi. “Rossi seharusnya tidak membiarkan konflik itu merusak fokusnya. Namun, pada akhirnya, Marquez mampu melawan, dan itu adalah haknya,” tegas Stoner.

3. Hubungan yang Membaik
Meski sempat berseteru dengan Rossi selama periode 2007 hingga 2011, Stoner mengakui bahwa hubungan mereka kini jauh lebih baik. Ia bahkan pernah diundang ke The Ranch, tempat latihan ikonik milik Rossi. Hal ini membuktikan bahwa meski rivalitas di lintasan memanas, hubungan pribadi keduanya tetap bisa diperbaiki.

Rivalitas Rossi dan Marquez masih menjadi topik hangat hingga saat ini. Kendati telah berlalu satu dekade, dinamika keduanya di dalam dan luar lintasan tetap menjadi cerita yang menarik dalam dunia balap MotoGP.

Marc Marquez Hadapi 5 Hambatan Berat untuk Juara MotoGP 2025, Rossi Jadi Ancaman Utama!

Marc Marquez menjadi salah satu pembalap yang paling dinantikan di MotoGP 2025. Dengan kepindahannya ke tim Ducati Lenovo, banyak yang berharap Marquez bisa kembali tampil dominan setelah musim 2024 yang cukup kompetitif. Namun, meskipun menunggangi motor yang lebih kompetitif, jalan Marquez menuju gelar juara MotoGP 2025 tak akan mulus. Ada beberapa hambatan yang harus ia hadapi di musim baru, dan berikut adalah lima tantangan terbesar yang bisa menghalangi impiannya.

1. Kehadiran Kepala Kru Baru

Setelah tiga tahun berturut-turut bekerja dengan kepala kru yang berbeda, Marc Marquez kini harus beradaptasi dengan Marco Rigamonti di Ducati. Rigamonti, yang sebelumnya bekerja dengan beberapa pembalap top seperti Enea Bastianini dan Johann Zarco, akan menjadi sosok yang membantunya menyesuaikan motor Ducati dengan gaya balapnya. Proses adaptasi ini bisa menjadi hambatan besar, karena Marquez harus menemukan chemistry dengan tim baru dalam waktu yang relatif singkat.

2. Pembuktian Diri di Ducati

Keputusan Ducati untuk memilih Marquez sebagai rider utama, meski juara dunia 2024 Jorge Martin lebih berprestasi, menambah beban mental pada Marquez. Ia harus membuktikan bahwa Ducati membuat keputusan yang tepat, dan menunjukkan bahwa dirinya layak untuk memimpin tim pabrikan. Tekanan untuk memberikan hasil yang memuaskan bisa menjadi penghalang besar bagi Marquez, yang harus menjaga konsentrasi dan performanya.

3. Tekanan dari Penggemar yang Penasaran

Marc Marquez sempat tampil luar biasa pada MotoGP 2019, dengan 12 kemenangan dari 19 balapan. Penonton kini bertanya-tanya apakah Marquez bisa mengulangi pencapaian gemilang tersebut di MotoGP 2025. Tekanan untuk memenuhi ekspektasi penggemar dan media bisa mengganggu fokusnya, mengingat harapan yang sangat tinggi untuk melihatnya kembali merajai sirkuit.

4. Persaingan dengan Francesco Bagnaia

Francesco Bagnaia, juara dunia MotoGP 2022, diprediksi akan kembali kuat di musim 2025 setelah mengalami musim yang penuh lika-liku di 2024. Bagnaia kini akan menjadi salah satu pesaing utama Marquez, terutama setelah Jorge Martin berpindah ke Aprilia. Potensi friksi dan intrik antara dua pembalap kelas dunia ini bisa menjadi faktor penentu dalam perebutan gelar, dengan keduanya memiliki ambisi besar untuk meraih kemenangan.

5. Rivalitas dengan Valentino Rossi

Kepindahan Marquez ke Ducati juga memunculkan kembali rivalitas yang tak terhindarkan dengan Valentino Rossi, legenda MotoGP asal Italia. Rossi, yang memiliki hubungan dekat dengan Ducati, bahkan terang-terangan ingin lebih sering hadir di sirkuit untuk memantau para pembalapnya. Kehadiran Rossi bisa menambah tekanan psikologis pada Marquez, yang ingin menyaingi jumlah gelar juara kelas utama yang dimiliki oleh The Doctor, yang saat ini unggul satu gelar dari Marquez.

Dengan segala rintangan ini, Marc Marquez harus bekerja ekstra keras untuk mewujudkan impian meraih gelar juara dunia MotoGP 2025. Namun, jika ia berhasil mengatasi tantangan-tantangan ini, musim depan bisa menjadi awal dari kebangkitan sang juara dunia enam kali ini.

David Alonso Semakin Mengagumi Marc Marquez dan Valentino Rossi Setelah Raih Juara Dunia Moto3 2024

Jakarta – Rider muda asal Spanyol, David Alonso, semakin mengagumi dua legenda MotoGP, Marc Marquez dan Valentino Rossi, setelah menorehkan prestasi gemilang dengan meraih gelar juara dunia Moto3 2024. Meskipun baru berusia 18 tahun, Alonso telah menarik perhatian banyak kalangan dengan penampilannya yang mengesankan sepanjang musim balap tahun ini.

Nama Alonso sering dikaitkan dengan dua nama besar dalam dunia balap, yakni Marc Marquez dan Valentino Rossi. Marquez, yang dikenal sebagai juara dunia MotoGP enam kali, beberapa kali memberikan pujian kepada Alonso, bahkan ada yang menyebutnya sebagai “murid” Marquez. Tak hanya itu, gaya berkendara Alonso yang agresif dan selebrasi khas di atas podium Moto3 2024 membuatnya sering dibandingkan dengan Rossi, yang terkenal dengan gaya balap dan selebrasi ikoniknya.

Puncak dari perjalanan Alonso musim ini adalah ketika ia berhasil meraih gelar juara dunia Moto3 2024, sebuah pencapaian yang tidak hanya mengangkat namanya, tetapi juga memecahkan rekor kemenangan Rossi di kelas 125cc. Keberhasilan ini semakin mempertegas potensi besar yang dimiliki oleh pebalap muda ini.

Menanggapi berbagai perbandingan dengan Marquez dan Rossi, Alonso mengungkapkan rasa terharunya. Setelah merasakan langsung apa rasanya menjadi juara dunia, Alonso menyadari betapa luar biasanya pencapaian yang telah diraih oleh Marquez dan Rossi. “Saya semakin terkejut dengan apa yang telah dicapai oleh Marc dan Valentino. Mereka sudah meraih begitu banyak kemenangan, dan untuk terus mempertahankan ambisi dan motivasi mereka selama bertahun-tahun, itu luar biasa,” ungkap Alonso dalam sebuah wawancara.

Menurut Alonso, setelah meraih gelar juara dunia, ia semakin sulit membayangkan bagaimana Marquez dan Rossi bisa tetap mempertahankan dominasi mereka begitu lama di dunia balap. Hal ini semakin membuatnya mengagumi kedua legenda tersebut. “Saya sangat menghargai adanya perbandingan antara saya dengan Rossi atau Marquez, tapi saya berusaha untuk tidak terlalu terbebani oleh hal tersebut. Saya tetap fokus pada apa yang saya lakukan,” tambah Alonso.

Alonso menegaskan bahwa pencapaiannya sebagai juara dunia Moto3 tidak membuatnya berhenti di situ saja. Sebaliknya, gelar ini justru memberinya motivasi tambahan untuk terus berkembang dan meraih sukses lebih besar di masa depan. “Sekarang saya merasa lebih termotivasi untuk terus berprestasi di masa mendatang. Pencapaian ini hanya langkah pertama, dan saya ingin melanjutkan perjuangan saya,” ujar Alonso.

Dengan motivasi dan potensi yang dimilikinya, David Alonso diprediksi akan menjadi salah satu bintang besar di masa depan MotoGP. Meskipun masih muda, keberhasilannya di Moto3 menunjukkan bahwa ia memiliki semua yang dibutuhkan untuk bersaing di level tertinggi dalam dunia balap motor.

Marc Marquez Memilih untuk Tidak Bergabung dengan Grup Valentino Rossi di MotoGP 2025

Pada tanggal 19 Desember 2024, Marc Marquez mengungkapkan keputusannya untuk tidak bergabung dengan kelompok yang dipimpin oleh legenda MotoGP, Valentino Rossi. Keputusan ini diambil menjelang dimulainya musim balapan 2025, dengan Marquez menegaskan bahwa ia menghindari keterlibatan dalam kelompok tersebut demi menghindari potensi konflik terkait sponsor dan kepentingan pribadi yang dapat mengganggu karier balapnya. Sebagai salah satu pembalap berbakat di generasinya, Marquez memilih untuk mempertahankan independensinya di lingkungan MotoGP.

Marquez menjelaskan bahwa ketegangan yang semakin intens antara tim dan sponsor menjelang musim 2025 turut memengaruhi pilihannya. Mengingat persaingan ketat antara tim besar seperti Yamaha dan Honda yang terlibat dalam permasalahan sponsor, ia merasa lebih bijak untuk tidak terikat pada kelompok atau aliansi tertentu yang dapat mengalihkan fokus dan tujuannya dalam balapan. Bagi Marquez, mempertahankan profesionalisme dan integritas dalam setiap langkah kariernya adalah hal yang sangat penting.

Meskipun Valentino Rossi telah pensiun dari balapan profesional, pengaruhnya tetap terasa kuat di dunia MotoGP, terutama melalui tim VR46 yang dikelola oleh keluarganya. Banyak pembalap muda yang bergabung dengan tim ini untuk memulai dan mengembangkan karier mereka. Namun, Marquez memilih untuk menjaga jarak dengan pengaruh besar Rossi, meskipun keduanya pernah memiliki hubungan profesional yang baik di beberapa kesempatan. Marquez lebih memilih untuk fokus pada tim dan sponsor yang ia percayai.

MotoGP dikenal sebagai olahraga dengan industri sponsor yang sangat besar, yang seringkali menghadirkan masalah terkait konflik kepentingan antara pembalap, tim, dan sponsor. Marquez, yang memiliki kontrak jangka panjang dengan Honda, mengungkapkan kekhawatirannya jika bergabung dengan kelompok tertentu dapat menimbulkan ketegangan dengan tim dan sponsor yang selama ini mendukungnya. Hal ini juga dapat memengaruhi citra dan keputusan strategis yang diambil oleh Honda untuk masa depan.

Marquez juga menegaskan bahwa fokus utamanya adalah pencapaian tujuan pribadinya dalam musim 2025. Setelah menghadapi beberapa cedera serius dalam beberapa tahun terakhir, Marquez bertekad untuk kembali menunjukkan performa terbaiknya dan berkompetisi di level tertinggi tanpa gangguan. Ia menginginkan lingkungan yang lebih stabil dan profesional untuk melanjutkan kariernya di dunia balap, yang sudah memberinya berbagai pencapaian luar biasa.

Keputusan Marquez untuk menjauh dari kelompok yang dipimpin oleh Rossi bisa memengaruhi dinamika persaingan dalam MotoGP 2025. Aliansi-aliansi pembalap dengan pengaruh besar seperti yang dimiliki Rossi sering kali menarik perhatian media dan penggemar. Meski begitu, Marquez memilih untuk mengutamakan nilai-nilai pribadi dan profesionalisme dalam menjalani musim 2025, yang mungkin menjadi langkah penting dalam membangun kembali kesuksesannya setelah melewati musim-musim penuh tantangan.

Kisah Legenda MotoGP Italia yang Lebih Suka Marc Marquez ketimbang Valentino Rossi

Legenda MotoGP Italia, Giacomo Agostini, mengungkapkan pandangannya tentang dua pembalap besar, Marc Marquez dan Valentino Rossi. Dalam pandangan Agostini, Marquez memiliki daya tarik tersendiri yang membuatnya lebih menarik daripada Rossi. Ia memuji keberanian dan kemampuan Marquez dalam memberikan pertunjukan yang memukau di setiap balapan.

Menurut Agostini, Marquez adalah seorang petarung sejati yang mampu menghadirkan kegembiraan bagi para penonton MotoGP. “Marc adalah kelemahan saya karena dia membuat penonton bersemangat. Dia selalu tampil memukau, dan itu yang disukai semua orang,” ujar Agostini dalam wawancaranya yang dikutip dari Crash pada Kamis (19/12/2024).

Agostini juga mengakui kehebatan Rossi yang berhasil meraih sembilan gelar juara dunia. “Rossi adalah pembalap yang cerdik dan memiliki naluri juara,” tambahnya. Namun, bagi Agostini, Marquez memiliki keberanian dan ketegasan yang membuatnya lebih menonjol di lintasan balap.

Perseteruan antara Marquez dan Rossi telah menjadi sorotan dalam dunia MotoGP sejak 2015. Ketegangan antara keduanya dimulai ketika Rossi menuduh Marquez membantu Jorge Lorenzo dalam perebutan gelar juara dunia, yang akhirnya membuat Rossi gagal meraih gelar tersebut. Sejak itu, hubungan mereka sering diwarnai dengan ketegangan dan kritik terhadap gaya balap Marquez yang dianggap terlalu agresif.

Namun, Agostini melihat perbedaan usia dan generasi di antara keduanya sebagai faktor yang membuat mereka sulit dibandingkan secara langsung. “Mereka berasal dari generasi yang berbeda. Yang satu sudah mencapai puncaknya, sementara yang lain masih dalam perjalanan,” jelas Agostini.

Meski begitu, Agostini tetap mengagumi semangat juang Marquez yang tak pernah menyerah. “Marquez adalah petarung sejati. Dia selalu berusaha keras dan memberikan yang terbaik di setiap balapan, dan itu yang membuatnya luar biasa,” lanjutnya.

Agostini sendiri merupakan pemegang rekor dengan 15 gelar juara dunia, delapan di antaranya di kelas utama. Sementara Rossi telah pensiun pada 2021 dengan tujuh gelar, Marquez yang masih aktif dengan enam gelar masih memiliki kesempatan besar untuk menyamai atau bahkan melampaui rekor Agostini di masa depan.

Dengan Marquez yang masih aktif berkompetisi, para penggemar MotoGP pasti akan terus disuguhkan dengan aksi-aksi spektakuler dan persaingan ketat di lintasan. Keberanian dan kemampuan Marquez dalam menghibur penonton membuatnya menjadi salah satu pembalap paling menarik untuk disaksikan.

Marc Marquez Pilih Jauhi Grup Valentino Rossi Di MotoGP 2025

Pada 19 Desember 2024, Marc Marquez mengonfirmasi bahwa dia menolak untuk bergabung dengan kelompok atau geng yang dipimpin oleh legenda MotoGP, Valentino Rossi. Keputusan ini diumumkan menjelang dimulainya musim 2025, dengan Marquez mengklarifikasi bahwa langkah ini diambil untuk menghindari potensi konflik terkait sponsor dan kepentingan pribadi yang dapat mengganggu kariernya. Marquez, yang dikenal sebagai salah satu pembalap paling berbakat di era modern, lebih memilih untuk menjaga independensinya di paddock MotoGP.

Marquez mengungkapkan bahwa ketegangan yang semakin meningkat antara berbagai tim dan sponsor di MotoGP 2025 menjadi faktor penting dalam keputusannya. Dengan beberapa tim besar seperti Yamaha dan Honda terlibat dalam persaingan sponsor, Marquez merasa lebih bijak untuk tidak terlibat dalam kelompok atau aliansi tertentu yang bisa memengaruhi fokus dan tujuannya dalam balapan. Dia menganggap bahwa mempertahankan integritas dan profesionalisme adalah yang terpenting dalam perjalanan karier balapnya.

Valentino Rossi, yang kini sudah pensiun dari balap profesional, masih memiliki pengaruh besar dalam dunia MotoGP, terutama melalui tim VR46 yang dikelola oleh keluarganya. Banyak pembalap muda yang bergabung dengan tim Rossi untuk membangun karier mereka. Meskipun begitu, Marquez memilih untuk tetap menjaga jarak dengan pengaruh kuat ini, meskipun keduanya memiliki hubungan profesional yang baik dalam beberapa kesempatan. Marquez lebih memilih untuk fokus pada tim dan sponsor yang dia percayai.

MotoGP, sebagai salah satu olahraga dengan industri sponsor yang besar, sering kali menghadapi masalah terkait konflik kepentingan antara pembalap, tim, dan sponsor. Marquez, yang memiliki kontrak dengan Honda, khawatir jika bergabung dengan kelompok tertentu dapat menciptakan ketidakharmonisan dengan tim dan sponsor yang telah bekerja sama dengannya selama bertahun-tahun. Hal ini juga bisa berdampak pada citra dan keputusan strategis yang diambil oleh Honda untuk masa depan.

Marquez juga menegaskan bahwa dia berfokus pada pencapaian tujuan pribadi di MotoGP 2025. Dengan beberapa cedera serius yang menghantuinya dalam beberapa musim terakhir, Marquez bertekad untuk kembali ke performa terbaiknya dan berkompetisi di level tertinggi tanpa gangguan. Dia menginginkan suasana yang lebih tenang dan profesional untuk melanjutkan perjalanan kariernya di dunia balap, yang sudah memberinya banyak pencapaian luar biasa.

Keputusan Marquez untuk menjauhi kelompok Valentino Rossi ini mungkin berdampak pada dinamika persaingan di MotoGP 2025. Pasalnya, aliansi-aliansi pembalap dengan pengaruh besar seperti Rossi selalu menarik perhatian media dan penggemar. Namun, Marquez lebih memilih untuk mengedepankan nilai-nilai pribadi dan profesionalisme dalam menjalani musim 2025, yang bisa jadi menjadi langkah penting untuk membangun kembali kesuksesan pribadi setelah beberapa musim penuh tantangan.

Alpine Resmi Sponsori Pramac Racing untuk MotoGP 2025: Kolaborasi Epik di Dunia Balap

Tim MotoGP Pramac Racing mengumumkan kerjasama jangka panjang dengan merek sportscar Renault, Alpine, sebagai salah satu sponsor utama mereka mulai musim 2025. Kesepakatan ini muncul seiring Pramac Racing menjadi tim satelit baru Yamaha pada tahun yang sama, seperti yang dilaporkan oleh Motorsport.com. Merek asuransi asal Italia, Prima, yang telah menjadi sponsor utama Pramac, akan tetap mendukung tim ini hingga akhir musim 2027.

Kerjasama dengan Alpine, yang juga berkompetisi di Formula 1 dan Kejuaraan Ketahanan Dunia, menandai kedua kalinya Pramac berkolaborasi dengan dunia F1. Sebelumnya, pada 2021, logo resmi F1 terpampang di motor Ducati milik Jorge Martin dan Johann Zarco. Kesepakatan ini terwujud berkat hubungan dekat antara bos Pramac, Paolo Campinoti, dan CEO F1, Stefano Domenicali.

Dalam kasus terbaru ini, kemitraan dengan Alpine dipengaruhi oleh hubungan kuat Campinoti dengan CEO Renault, Luca de Meo. De Meo melihat MotoGP sebagai platform yang menarik untuk mempromosikan merek mobil mereka. Sebelumnya, selama masa jabatannya di Fiat Group, perusahaan ini menjadi sponsor utama Yamaha dengan logo mereka terlihat di motor Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo dari 2007 hingga 2010.

Pramac Racing akan mengakhiri hubungan panjang mereka dengan Ducati setelah dua dekade penuh kesuksesan, termasuk mendukung Jorge Martin meraih gelar juara dunia pembalap 2024 dan memenangkan kejuaraan tim sebelumnya. Mulai 2025, mereka akan bekerjasama dengan Yamaha, mengikuti strategi Ducati dengan memasok motor berspesifikasi pabrikan.

Pramac Racing akan memperkenalkan livery Yamaha M1 mereka pada tes pramusim resmi di Sirkuit Internasional Sepang pada 5-7 Februari mendatang, bersamaan dengan sesi foto resmi 2025 yang diselenggarakan oleh promotor kejuaraan, Dorna.

Tim ini akan turun di musim 2025 dengan dua mantan pemenang balapan, Jack Miller dan Miguel Oliveira, yang dikontrak langsung oleh Yamaha. Kerjasama ini diharapkan membawa angin segar dan kesuksesan baru bagi Pramac Racing dalam persaingan MotoGP mendatang.

Adik Valentino Rossi Jengkel Tidak Akan Ada Peningkatan Di Motor Honda Sampai Pertengahan MotoGP 2025

Pada 24 November 2024, Luca Marini, adik dari legenda MotoGP Valentino Rossi, mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap kinerja motor Honda di musim MotoGP 2025. Marini yang kini membalap dengan tim satelit Ducati, mengaku kecewa dengan kabar bahwa tidak akan ada peningkatan signifikan pada motor Honda sampai pertengahan musim 2025. Hal ini berpotensi membuat para pembalap Honda, termasuk Marc Márquez, kesulitan untuk bersaing di level tertinggi.

Menurut Marini, performa motor Honda saat ini belum mampu memenuhi ekspektasi tim dan pembalap, meskipun ada perubahan dalam manajemen teknis dan strategi. Honda, yang sebelumnya dikenal dengan kestabilan dan kekuatan mesinnya, sekarang dianggap tertinggal di belakang para pesaing seperti Ducati dan Yamaha. Marini menyatakan bahwa tanpa adanya peningkatan yang signifikan, sulit bagi Honda untuk mencapai podium dalam kejuaraan dunia, terutama melawan tim-tim yang sudah lebih siap dengan teknologi terbaru.

Marini juga menyebutkan bahwa kekecewaannya tidak hanya karena performa motor, tetapi juga karena keterlambatan dalam pengembangan dan inovasi yang direncanakan oleh Honda. Ia mengatakan, meskipun ada perbaikan jangka panjang yang sedang direncanakan, tidak ada perubahan besar yang dapat diharapkan sebelum pertengahan musim 2025. Hal ini jelas menjadi tantangan besar bagi para pembalap Honda, termasuk Márquez yang telah berjuang keras selama beberapa musim terakhir untuk kembali ke performa terbaiknya.

Dengan adanya informasi ini, tim Honda harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan di musim 2025. Pembalap-pembalap mereka, terutama Marc Márquez, yang telah lama menjadi andalan tim, mungkin akan menghadapi tantangan berat dalam meraih hasil maksimal di awal musim. Marini berharap Honda segera mempercepat pengembangan motornya agar bisa bersaing lebih ketat di level atas.

Meski kecewa, Marini tetap berharap bahwa Honda akan segera melakukan langkah besar dalam pengembangan motornya, terutama setelah pertengahan musim 2025. Ia mengingatkan bahwa MotoGP adalah ajang yang sangat kompetitif, dan tanpa inovasi yang berkelanjutan, tim-tim besar seperti Honda bisa tertinggal jauh. Meskipun begitu, para penggemar berharap bahwa perbaikan pada motor Honda akan segera terwujud untuk mendukung kembalinya dominasi tim ini di ajang balapan dunia.

Ini Alasan Jorge Martin Minta Teknik Ciptaan Valentino Rossi Dilarang Dipakai Di MotoGP

Pada 6 November 2024, pembalap MotoGP Jorge Martín mengajukan permintaan agar teknik yang diciptakan oleh legenda MotoGP, Valentino Rossi, dilarang untuk digunakan dalam balapan. Teknik yang dimaksud adalah “The Doctor’s Line”, sebuah metode khusus yang digunakan Rossi untuk mengatasi tikungan dengan cara yang unik. Martín, yang saat ini berlomba untuk tim Ducati, menyampaikan kekhawatirannya mengenai potensi keuntungan yang bisa diperoleh pembalap dengan menggunakan teknik tersebut.

Valentino Rossi dikenal dengan gaya balapnya yang sangat khas, terutama dalam cara dia menaklukkan tikungan dengan memanfaatkan teknik khusus yang sudah dia kembangkan sepanjang kariernya. Teknik ini, yang dikenal dengan sebutan “Rossi’s Line,” banyak dicontoh oleh pembalap muda, termasuk Jorge Martín. Namun, Martín merasa bahwa penggunaan teknik tersebut sudah terlalu sering dan mulai menguntungkan pembalap tertentu secara tidak adil. Ia mengklaim bahwa gaya balap tersebut membuat beberapa pembalap mampu menghemat waktu lap dengan cara yang tidak sepenuhnya fair dalam hal teknik.

Jorge Martín menjelaskan bahwa keunggulan teknik tersebut terletak pada cara tertentu untuk memotong lintasan dan menggunakan posisi tubuh untuk memaksimalkan grip ban, yang menurutnya bisa memberi keuntungan tidak wajar pada balapan. “Kami semua ingin balapan yang lebih adil, di mana hasilnya murni tergantung pada kecepatan dan kemampuan fisik, bukan teknik yang sudah dipatenkan,” ujar Martín. Ia menambahkan bahwa dengan melarang teknik tertentu, MotoGP dapat menjaga tingkat persaingan yang lebih adil antara semua pembalap.

Meskipun pernyataan Jorge Martín cukup mencuri perhatian, Valentino Rossi sendiri belum memberikan komentar resmi mengenai usulan tersebut. Rossi yang sudah pensiun dari balapan MotoGP, kini berfokus pada aktivitas di luar lintasan, termasuk membina pembalap muda dan terlibat dalam berbagai proyek motorsport. Namun, banyak pihak yang berpendapat bahwa teknik yang dikembangkan oleh Rossi selama kariernya harus tetap dihormati, karena merupakan bagian dari warisan yang telah membentuk sejarah MotoGP.

Menurut beberapa ahli balap, teknik yang digunakan oleh Rossi bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari secara instan. Meskipun banyak pembalap muda yang mencoba menirunya, keunggulan Rossi terletak pada pengalaman dan pemahaman mendalam tentang karakteristik sepeda motor dan lintasan balap. Sebagian besar pembalap, termasuk Martín, mengakui bahwa teknik tersebut memerlukan penguasaan dan presisi tinggi, yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikuasai.

Pernyataan Martín mengenai pelarangan teknik tersebut kemungkinan akan memicu diskusi lebih lanjut di kalangan pengurus MotoGP. Pihak penyelenggara bisa saja mempertimbangkan perubahan regulasi untuk menghindari ketidakadilan teknis di masa depan. Namun, dengan banyaknya teknik unik yang dikembangkan oleh pembalap sepanjang sejarah, sulit untuk mengatakan apakah teknik tertentu, seperti yang dikembangkan oleh Rossi, bisa benar-benar dilarang dalam balapan yang semakin kompetitif ini.