Tag Archives: Oleksandr Usyk

https://hementeslimat.com

Alex Pereira Berambisi Tantang Usyk di Atas Ring Tinju, Siap Wujudkan Duel Spektakuler

Juara kelas berat ringan UFC, Alex Pereira, mengungkapkan keinginannya untuk bertarung melawan juara dunia tinju Oleksandr Usyk pada September 2025. Keinginan ini muncul setelah UFC menandatangani kesepakatan baru dengan promotor tinju asal Arab Saudi, Turki Alalshikh, yang berpotensi membuka peluang bagi bintang MMA untuk berlaga di atas ring tinju.

Pereira mengaku sangat antusias setelah mendengar pengumuman kerja sama tersebut. Ia melihat potensi besar untuk mengikuti jejak Conor McGregor yang pernah menghadapi Floyd Mayweather dalam pertarungan tinju lintas disiplin yang sukses secara komersial. Meskipun menyadari bahwa ia masih berada di belakang McGregor dan Mayweather dalam hal popularitas global, Pereira yakin namanya sudah cukup besar di UFC dan dapat menarik perhatian dalam duel melawan Usyk.

Namun, keputusan akhir mengenai pertarungan tersebut ada di tangan UFC. Jika organisasi seni bela diri campuran terbesar itu tertarik, Pereira siap melangkah ke ring dan menghadapi tantangan dari petinju kelas berat asal Ukraina tersebut. Saat ini, fokus utama Pereira adalah mempertahankan gelarnya dalam pertarungan melawan Magomed Ankalaev pada 8 Maret di Las Vegas.

Meski begitu, ia tetap mempertimbangkan berbagai opsi untuk masa depannya, termasuk menghadapi Dricus Du Plessis di kelas 205 pon, bertarung melawan Jon Jones di divisi berat, atau mewujudkan ambisinya di dunia tinju melawan Usyk. Pereira yakin ketiga skenario ini sangat mungkin terjadi dan siap menghadapi tantangan besar yang ada di depannya.

Oleksandr Usyk Dinobatkan sebagai Petinju Terbaik 2024 BWAA Setelah Dua Kali Taklukkan Tyson Fury

Asosiasi Penulis Tinju Amerika (BWAA) secara resmi mengumumkan para penerima penghargaan tahunan mereka pada Senin (3/2/2025), yang meliputi petinju terbaik, pertarungan terbaik, pelatih terbaik, serta manajer terbaik tahun 2024.

Oleksandr Usyk meraih penghargaan bergengsi Sugar Ray Robinson Award sebagai Petinju Terbaik 2024. Prestasi ini diraihnya setelah sukses mengalahkan Tyson Fury dua kali dalam duel perebutan gelar kelas berat yang spektakuler.

Tak hanya itu, pertarungan pertama antara Usyk vs Fury yang berlangsung pada 18 Mei 2024 di Riyadh, Arab Saudi, juga dinobatkan sebagai Pertarungan Terbaik 2024 dengan penghargaan Muhammad Ali-Joe Frazier Fight of the Year. Duel tersebut menjadi salah satu laga paling menegangkan tahun lalu, di mana Usyk berhasil menunjukkan keunggulannya atas Fury dalam 12 ronde penuh aksi.

Sementara itu, Robert Garcia dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik 2024 berkat keberhasilannya membimbing petinju seperti Jesse “Bam” Rodriguez dan Vergil Ortiz Jr, serta menyusun strategi yang membawa Jose Valenzuela menaklukkan Isaac Cruz pada Agustus 2024.

Penghargaan Manajer Terbaik 2024 BWAA Cus D’Amato diberikan kepada Egis Klimas, yang sukses mengelola karier Oleksandr Usyk dan Vasiliy Lomachenko. Lomachenko sendiri bangkit dari kekalahannya melawan Devin Haney pada 2023 dan berhasil merebut gelar kelas ringan setelah menumbangkan George Kambosos Jnr di Australia.

Selain penghargaan utama tersebut, BWAA juga memberikan penghargaan kehormatan kepada beberapa sosok berpengaruh di dunia tinju, termasuk Bruce Silverglade (Good Guy Award), Marv Albert (Broadcast Award), Brad Goodman (Meritorious Service Award), serta Prichard Colon (Courage in Overcoming Adversity Award).

Dari Tyson ke Usyk: Kisah Epik di Dunia Tinju Kelas Berat

Dunia tinju kelas berat selalu penuh dengan kejutan dan cerita epik. Di tahun 2024, perhatian dunia terfokus pada persaingan sengit antara dua raksasa, Tyson Fury dan Oleksandr Usyk. Namun, perjalanan menuju momen tersebut tidaklah mudah dan penuh liku. Dari zaman keemasan Mike Tyson, kita diajak mengingat kembali sejarah besar yang membentuk dunia tinju hingga ke titik ini.

Perjalanan tinju kelas berat dimulai dengan langkah gemilang Mike Tyson pada 1 Agustus 1987, ketika ia mengalahkan Tony Tucker dan meraih sabuk juara dunia. Ini menjadi tanda bahwa dunia tinju kelas berat akan memasuki era baru yang penuh dengan kejutan. Tak lama setelahnya, pada 27 Juni 1988, Tyson membuat sejarah dengan mengalahkan Michael Spinks dalam waktu kurang dari dua menit, memantapkan posisinya sebagai raja tak terbantahkan. Tyson yang tak terkalahkan, dengan kekuatan pukulan mematikan, menjadikan namanya legendaris di kalangan penggemar tinju.

Namun, seiring berjalannya waktu, kompetisi di kelas berat semakin ketat. Nama-nama seperti Riddick Bowe, George Foreman, dan Lennox Lewis datang silih berganti, memperkaya sejarah tinju dengan pertarungan-pertarungan epik. Khususnya pada 1996, Evander Holyfield mencatatkan kemenangan legendaris saat mengalahkan Tyson, menandai salah satu kejutan terbesar dalam sejarah tinju.

Masuk ke era 2000-an, dominasi keluarga Klitschko, Vitali dan Wladimir, menjadi cerita utama di kelas berat. Wladimir, dengan keterampilan teknis yang luar biasa, memegang gelar juara dunia selama lebih dari satu dekade, menyudutkan para penantang dari seluruh dunia. Namun, era ini pun akhirnya berakhir, memberi jalan bagi generasi baru petarung kelas berat.

Kini, di tahun 2024, sorotan dunia tinju tertuju pada Tyson Fury dan Oleksandr Usyk. Kedua petarung ini telah mencuri perhatian dunia dengan kemampuan luar biasa dan keberanian bertarung yang tak terbendung. Pertarungan yang paling dinantikan, yaitu pertemuan antara Fury dan Usyk, sempat ditunda setelah Fury mengalami kekalahan mengejutkan dari petarung MMA, Francis Ngannou, pada akhir 2023. Akibatnya, duel yang seharusnya digelar pada Desember 2023 ini pun terpaksa dijadwalkan ulang pada Mei 2024.

Duel ini bukan sekadar pertarungan fisik, tetapi juga simbol dari ambisi dan tekad kedua petarung untuk meraih supremasi di dunia tinjo kelas berat. Dengan semangat yang menggebu dan ketegangan yang semakin memuncak, duel ini menjanjikan babak baru dalam sejarah tinju. Apakah Fury akan mengukuhkan kembali dominasinya, atau Usyk akan menambah koleksi gelarnya?

Di balik drama dan kejutan yang terjadi, satu hal yang pasti: tinju kelas berat terus berputar, dengan setiap pertarungan menambah warna dalam perjalanan panjang sejarah para juara dunia. Dan, pada Mei 2024 nanti, dunia tinju akan kembali menyaksikan momen yang tak akan terlupakan.

Taktik Tyson Fury Menjelang Duel Ulang Melawan Oleksandr Usyk pada 21 Desember 2024

Menjelang duel ulang antara Tyson Fury dan Oleksandr Usyk pada 21 Desember 2024, strategi Fury terus menjadi sorotan banyak pihak. Dalam sebuah wawancara menarik dengan promotor Usyk, Alex Krassyuk, Fury ditanya apakah dia berniat untuk menambah berat badan untuk pertandingan mendatang. “Tidak, saya ingin tetap bertinju dengan cara yang sama seperti sebelumnya,” jawab Fury, merujuk pada gaya bertarungnya di pertemuan pertama melawan Usyk.

Namun, Frank Warren, promotor Fury yang berasal dari Queensberry Promotions, menyatakan bahwa kecepatan akan menjadi faktor kunci dalam strategi mereka. Dalam sebuah wawancara dengan BoxNation, Fury mengungkapkan bahwa ia berencana tampil dengan berat badan sekitar 133 kg, yang lebih berat 15 kg dibandingkan dengan beratnya pada pertemuan pertama melawan Usyk, yang tercatat 118 kg.

Perubahan ini tentunya memunculkan banyak pertanyaan: apakah dengan tambahan berat badan tersebut, Fury akan mengubah gaya bertarungnya, atau justru tetap mempertahankan taktik yang sudah terbukti efektif sebelumnya?

Perang Psikologis dan Taktik Fury

Keputusan Fury untuk meningkatkan berat badan dan berbicara tentang pertarungan dengan cara yang terkesan kontradiktif adalah bagian dari permainan mental yang sering ia lakukan. Pada persiapan pertarungannya melawan Wladimir Klitschko pada 2015, Fury sudah dikenal dengan cara untuk mengganggu mental sang juara bertahan melalui berbagai cerita dan strategi psikologis. Hal yang sama juga terjadi dalam pertarungannya dengan Deontay Wilder, di mana Fury sempat berjanji akan mengalahkan Wilder dengan KO, dan akhirnya menepati janjinya.

Dengan sering menyebutkan penambahan berat badan dan rencana tampil lebih besar, Fury bisa jadi sedang mencoba menciptakan kebingungannya sendiri. Ini bisa menjadi usaha untuk membingungkan Usyk dan publik, membuat mereka meragukan strateginya. Ada kemungkinan besar bahwa Fury hanya berusaha meyakinkan lawannya dan penggemarnya bahwa dia akan bertarung dengan cara yang berbeda, padahal sebenarnya ia berencana untuk memberikan tekanan lebih besar kepada Usyk dengan pendekatan yang lebih agresif meski dengan tubuh yang lebih berat.

Apakah Berat Badan Meningkatkan Gaya Bertarung?

Salah satu alasan mengapa perubahan berat badan tidak akan merubah gaya bertarung Fury adalah karena pengalaman dan keberhasilannya dalam menghadapi petinju-petinju yang lebih agresif dan dengan pukulan yang lebih keras dari Usyk. Fury dengan percaya diri mengklaim bahwa petinju-petinju yang mencoba menjatuhkan Usyk dengan pendekatan lebih keras telah gagal. Oleh karena itu, menurut Fury, tidak perlu mengubah pendekatannya yang sudah terbukti efektif.

Fury tampaknya percaya bahwa kekuatannya terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan berbagai situasi, baik dengan kecerdikan ataupun dengan meningkatkan berat badan untuk memberikan tekanan fisik lebih kepada Usyk. Dengan demikian, meskipun ada perubahan dalam fisik, ia tetap akan menggunakan pendekatan yang sudah terbukti ampuh dalam pertemuan sebelumnya.

Kesimpulan: Psikologi sebagai Faktor Penentu

Pada akhirnya, kita bisa melihat bahwa permainan psikologis mungkin akan menjadi elemen krusial dalam pertandingan ulang ini. Tyson Fury mungkin mencoba mengelabui Usyk dan publik dengan pernyataan-pernyataan yang terkesan tidak konsisten. Namun, ini bisa jadi bagian dari strategi untuk mengguncang mental lawannya sebelum mereka berhadapan di ring. Penambahan berat badan yang terlihat signifikan mungkin bukan berarti Fury berniat mengubah gaya bertarungnya, melainkan untuk menyesuaikan fisiknya guna mendukung tujuan untuk mengalahkan Usyk dengan cara yang lebih efektif.

Dengan segala strategi psikologis dan penyesuaian fisiknya, pertarungan ini akan menjadi salah satu yang paling dinantikan dalam dunia tinju. Kita hanya perlu menunggu dan melihat apakah Fury akan menepati janjinya, seperti yang ia lakukan sebelumnya dalam pertarungan melawan Deontay Wilder.

Tyson Fury Berbobot 122 Kg, Peluang Kalah di Rematch Melawan Oleksandr Usyk

Tyson Fury, sang juara dunia kelas berat, telah mempersiapkan diri untuk pertarungan ulang yang sangat dinanti-nanti melawan Oleksandr Usyk pada 21 Desember mendatang. Namun, dalam foto terbaru yang beredar, Fury terlihat memiliki peningkatan berat badan yang signifikan, membuat banyak penggemar dan analis bertanya-tanya tentang kesiapan fisiknya menjelang pertandingan besar ini.

Fury, yang dikenal dengan julukan “Gypsy King,” diperkirakan memiliki berat badan sekitar 122,4 kg—angka yang sama dengan beratnya saat menghadapi Deontay Wilder dalam ronde kedua dan ketiga. Namun, meskipun berat badannya serupa, Fury terlihat kurang tajam dan tidak dalam kondisi terbaiknya, berbeda dengan penampilannya yang sangat terlatih di dua pertarungan tersebut.

Dengan waktu yang semakin dekat, keputusan Fury untuk tampil lebih berat kali ini menjadi bahan perdebatan. Beberapa pihak percaya bahwa penambahan berat badan justru bisa menjadi bumerang bagi Fury, mengingat dia akan menghadapi Usyk, seorang petarung dengan teknik yang sangat halus dan fisik yang lebih ramping. Usyk, yang memiliki catatan sempurna dalam rekam jejaknya (22-0, 14 KO), memiliki kecepatan dan kelincahan yang sangat berbahaya bagi petarung yang lebih besar seperti Fury.

Peningkatan berat badan yang tampaknya didorong oleh keinginan untuk memanfaatkan kekuatan fisik yang lebih besar dapat menjadi strategi yang berisiko. Alih-alih membuatnya lebih dominan, Fury mungkin justru akan memperlambat gerakannya dan memberi keuntungan bagi Usyk yang lebih gesit. Strategi ini mengingatkan pada cara Fury bertarung melawan Deontay Wilder dan Wladimir Klitschko, namun kedua petarung tersebut bukanlah sekelas Usyk yang memiliki kemampuan teknis di atas rata-rata.

Lebih lanjut, terlihat jelas bahwa Fury lebih fokus pada peningkatan berat badan dengan makan banyak, tetapi kurang berlatih untuk mengubah kalori menjadi otot yang dibutuhkan dalam pertarungan fisik yang intens. Ini mungkin mencerminkan pendekatan yang kurang matang dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi petarung yang lebih cepat dan lebih terampil.

Fury, yang kini berusia 36 tahun, tampaknya ingin memanfaatkan berat badannya untuk menggertak Usyk dan melemahkannya dengan pukulan yang lebih kuat dan lebih melelahkan. Namun, dengan karakteristik Usyk yang cerdas dan tangkas, tak ada jaminan bahwa strategi ini akan berhasil.

Pertarungan ini tentu akan menjadi tonggak penting dalam karier Fury. Dengan kemenangan, ia bisa meraih lebih dari USD 100 juta dari pertarungan tersebut dan melanjutkan kariernya di kelas berat, termasuk kemungkinan menghadapi Anthony Joshua di masa depan. Namun, jika strategi ini gagal, Fury mungkin harus menghadapi kritik keras, dan jika pelatihnya, Sugarhill Steward, yang memberi saran untuk penambahan berat badan ini, ia bisa menjadi pihak yang paling disalahkan.

Kekayaan bersih Fury diperkirakan akan melampaui USD 200 juta setelah pertandingan ini, dengan potensi untuk terus meraih lebih banyak lagi seiring dengan kesuksesan dalam pertarungan-pertarungan berikutnya. Namun, hasil dari pertarungan melawan Usyk akan menjadi penentu apakah Fury benar-benar dapat mempertahankan dominasinya di kelas berat.

Big Match Jotos Oleksandr Usyk vs Tyson Fury Di Perebutan Gelar Kelas Berat

Pada Desember 2024, dunia tinju akan menyaksikan pertarungan besar yang sudah lama dinanti-nanti antara dua petinju kelas berat terbaik, Oleksandr Usyk dan Tyson Fury. Kedua petarung ini akan saling berhadapan dalam duel perebutan gelar juara dunia kelas berat yang digelar di stadion besar di Inggris. Pertarungan ini menjanjikan adu jotos yang sengit antara dua juara dengan gaya bertarung yang sangat berbeda, tetapi sama-sama dominan di atas ring.

Oleksandr Usyk, petinju asal Ukraina, dikenal dengan teknik bertarung yang sangat teknis dan cerdas. Sebagai mantan juara dunia kelas ringan dan kelas menengah, Usyk membawa keahlian dan strategi yang luar biasa ke dalam ring kelas berat. Di sisi lain, Tyson Fury, petinju asal Inggris, memiliki postur tubuh yang besar dan gaya bertarung agresif. Fury dikenal dengan kemampuan bertahan yang sangat kuat serta kelincahan yang tak terduga meski memiliki tubuh yang lebih besar dari kebanyakan petinju kelas berat. Kombinasi kecepatan Usyk dengan kekuatan dan ukuran Fury akan menjadi pusat perhatian dalam pertandingan ini.

Gelaran ini bukan hanya tentang kebanggaan, tetapi juga tentang perebutan gelar juara dunia kelas berat WBC yang saat ini dipegang oleh Fury. Jika Usyk berhasil mengalahkan Fury, ia akan menjadi juara dunia kelas berat yang menggabungkan seluruh sabuk besar di dunia tinju, termasuk WBA, WBO, dan IBF yang sebelumnya telah dia raih. Duel ini juga akan menentukan siapa yang layak disebut sebagai petinju terbaik di kelas berat saat ini.

Pertarungan ini sangat penting bagi kedua petinju, baik dari segi karier maupun reputasi mereka di dunia tinju. Bagi Usyk, kemenangan atas Fury akan memperkokoh posisinya sebagai salah satu petinju terbesar sepanjang masa. Sementara bagi Fury, mempertahankan gelar juara dunia adalah kesempatan untuk terus mendominasi kelas berat dan melanjutkan legacy-nya sebagai salah satu petinju terbaik yang pernah ada. Dengan reputasi dan motivasi yang tinggi, pertandingan ini dipastikan akan menjadi salah satu pertarungan terbesar dalam sejarah tinju kelas berat.