Tag Archives: MOTOGP

Diggia Targetkan Pole Position di MotoGP Amerika Serikat 2025

Rider dari Pertamina Enduro VR46 Racing Team, Fabio Di Giannantonio, menargetkan untuk meraih pole position pada ajang MotoGP Amerika Serikat. Ia merasa yakin bisa mencapainya.

Pada sesi latihan yang berlangsung di Circuit of The Americas, Austin, Sabtu (29/3/2025), Di Giannantonio, yang biasa disapa Diggia, berhasil mencatatkan waktu terbaik kedua dengan 2 menit 3,665 detik. Waktu tersebut terpaut 0,736 detik dari Marc Marquez, rider Ducati yang mencatatkan waktu tercepat.

Dengan hasil tersebut, Diggia berhak langsung melaju ke Q2 pada sesi kualifikasi. Oleh karena itu, ia sangat berharap bisa meraih pole position pada balapan nanti.

Pada dua seri MotoGP sebelumnya, Marc Marquez selalu menempati posisi terdepan dan berhasil memenangkan MotoGP Argentina dan MotoGP Thailand.

“Kami memiliki potensi besar dan saat kondisi trek kering, kami bisa lebih cepat,” ungkap Diggia dalam rilis yang diterima detikSport.

Dia juga menambahkan, “Tim kami memiliki energi yang luar biasa, atmosfernya selalu positif. Kami juga sangat antusias dengan desain livery yang akan digunakan pada hari Minggu. Tujuan kami adalah untuk bertarung meraih pole position, dan kami siap untuk itu.”

Di MotoGP Argentina, Pertamina Enduro VR46 Racing Team berhasil meraih podium melalui Franco Morbidelli yang menempati posisi ketiga.

Alex Marquez Beberkan Perbedaan Spek Motor dengan Marc Marquez

Alex Marquez membuktikan bahwa performa motor Desmosedici GP tidak terlalu tertinggal dibandingkan dengan versi pabrikan. Hal ini terlihat dari keberhasilannya meraih podium dalam ajang MotoGP Thailand 2025.

Ducati masih mempertahankan desain mesin GP24 untuk musim GP25. Tim utama juga tetap menggunakan rangka dan aerodinamika yang serupa dengan tahun sebelumnya.

Beberapa komponen selain mesin dapat mengalami pembaruan sepanjang musim. Namun, terdapat beberapa perbedaan kecil antara motor tim pabrikan dan satelit, seperti pada bagian swing arm.

“Mereka adalah pembalap utama, jadi mereka memiliki beberapa versi terbaru,” ujar Alex Marquez, dikutip dari Crash, Rabu (5/3/2025).

“Memang ada perbedaan, tetapi kami tetap memiliki perangkat yang kompetitif untuk bersaing dalam banyak balapan.”

Fabio di Giannantonio dari tim VR46 mengendarai motor dengan spesifikasi pabrikan ‘GP25’, bersama dengan Marquez dan Bagnaia. Sementara itu, pendatang baru Fermin Aldeguer menggunakan versi satelit ‘GP24’, serupa dengan motor yang dipakai oleh Alex Marquez dan Morbidelli.

GP24 dirancang untuk menyesuaikan dengan konstruksi ban belakang Michelin terbaru.

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan peningkatan teknis apa saja yang akan diterapkan pada motor satelit GP24 selama musim berlangsung. Sementara itu, pembalap yang menggunakan GP25 akan menguji komponen baru dalam sesi tes di Jerez.

“Memang ada beberapa perbedaan kecil antara motor pabrikan dan satelit,” ungkap manajer umum Ducati Corse, Gigi Dall’Igna, kepada Sky Italia.

“Kami telah merancang beberapa pengembangan baru yang akan diuji dalam sesi tes di Jerez. Jadi, untuk empat balapan ke depan, kami akan tetap menggunakan konfigurasi yang ada saat ini,” tambahnya.

Marc Marquez Gabung Ducati, Targetkan Gelar Juara!

Marc Marquez dianggap memilih bergabung dengan Ducati demi meraih gelar juara. Pendapat tersebut disampaikan oleh pembalap Superbike, Alvaro Bautista.

Pada musim sebelumnya bersama Gresini Racing, Marc Marquez berhasil finis di posisi ketiga dengan mengumpulkan 392 poin serta mencatatkan tiga kemenangan sepanjang MotoGP 2024.

Saat menjalani tes MotoGP 2025, Marquez telah menunjukkan kemampuannya untuk bersaing di level tertinggi. Dalam sesi uji coba di Buriram yang berlangsung pada 12-13 Februari 2025, pembalap yang dijuluki Baby Alien itu berhasil menempati peringkat keempat.

Marquez mencatatkan waktu satu menit 29,4960 detik, hanya terpaut 0,436 detik dari Marco Bezzecchi, pembalap andalan Aprilia.

“Ketika seorang pembalap sekelas Marquez mengendarai motor pabrikan Ducati, jelas targetnya adalah kemenangan. Namun, hal itu tidak akan mudah karena segala sesuatu bisa terjadi dalam balapan,” ujar Bautista kepada GP One.

Ia juga menambahkan bahwa Marquez datang ke musim ini dengan persiapan lebih matang dibandingkan pembalap lainnya. “Menurut saya, peluangnya untuk menjadi juara lebih besar dibandingkan yang lain. Tapi jangan lupakan Pecco, dia memiliki pengalaman dengan motor ini dan menjadi satu-satunya pesaing utama,” tambahnya.

MotoGP Thailand 2025 akan digelar pada 28 Februari hingga 2 Maret, menjadi seri pembuka musim ini.

Uji Coba Dua Elemen Baru Ducati: Fokus pada Desain Ekor yang Lebih Canggih

Ducati kembali mencuri perhatian di tes pramusim MotoGP Sepang dengan menghadirkan inovasi aerodinamika terbaru. Setelah Michele Pirro menjadi yang pertama mengujinya, giliran Marc Marquez dan Francesco Bagnaia merasakan performa dari desain ekor baru yang hampir berbentuk segitiga. Fokus utama bukan hanya pada dua sayap berbentuk V yang sudah dikenal di bagian belakang, tetapi juga dua elemen tambahan di bawahnya yang memiliki desain unik dan belum pernah terlihat sebelumnya.

Pabrikan asal Borgo Panigale ini terus berupaya mengembangkan teknologi aerodinamika yang semakin kompleks. Penggemar mungkin tertarik melihat motor Desmosedici GP25 yang dikendarai Marquez dan Bagnaia, tetapi eksperimen sebenarnya terjadi pada motor uji yang dikendarai oleh test rider Ducati, Michele Pirro. Pirro mendapatkan tugas untuk mengawali uji coba sejak sesi Shakedown hingga tes resmi MotoGP di Sepang, menguji desain buntut baru yang dikembangkan oleh tim aerodinamika Ducati.

Tim Ducati, yang melakukan pengujian aerodinamika di fasilitas Dallara, mengadopsi bentuk ekor motor yang lebih runcing dan ekstrem. Bagian belakangnya terlihat lebih meruncing dengan desain segitiga yang tajam. Selain itu, di bagian samping terdapat dua panel putih dengan celah udara yang cukup mencolok.

Dinamika Baru Saat Motor Berbelok

Efektivitas desain ini bergantung pada posisi motor, apakah sedang melaju lurus atau dalam kondisi miring di tikungan. Dalam posisi miring, dua flap berbentuk V berfungsi secara berbeda: flap bagian dalam menjadi horizontal dan menciptakan tambahan gaya tekan, sementara flap bagian luar berdiri vertikal, bertindak sebagai stabilisator yang membantu keseimbangan motor.

Namun, kejutan sebenarnya datang dari dua elemen tambahan yang terletak di bawah sayap utama. Elemen ini tampaknya masih dalam tahap eksperimen dan dibuat menggunakan metode prototipe cepat. Hal ini mengindikasikan bahwa Ducati masih akan terus menyempurnakan desainnya berdasarkan data yang dikumpulkan selama pengujian di Malaysia.

Respons Positif dari Pembalap Ducati

Pada hari kedua tes Sepang, solusi aerodinamika ini mulai dicoba oleh Pecco Bagnaia dan Marc Marquez. Desain baru ini tampak seperti “sendok aerodinamika” yang terdiri dari dua elemen sayap terpisah dengan slot di tengahnya, menambah efektivitas dalam mengatur aliran udara di bagian belakang motor.

Meski sudah mendominasi MotoGP dalam beberapa musim terakhir, Ducati tidak ingin memberikan kesempatan bagi pesaingnya untuk mendekat. Dengan inovasi aerodinamika terbaru ini, mereka menunjukkan komitmen untuk terus mengembangkan teknologi yang semakin maju. Hasil pengujian ini akan menjadi dasar pengembangan lebih lanjut sebelum musim MotoGP 2025 resmi dimulai.

Livery MotoGP 2025 LCR Honda Terungkap, Disajikan di Bangkok!

Musim MotoGP 2025 semakin mendekat, dan seluruh 11 tim di ajang balap motor paling bergengsi di dunia kini telah meluncurkan desain baru untuk kendaraan mereka. Salah satu tim yang mencuri perhatian adalah tim satelit Honda, LCR, yang pada Sabtu (8/2/2025) mengungkapkan motor terbaru mereka di Bangkok, Thailand.

Acara peluncuran ini sangat dinanti, terutama karena melibatkan dua pembalap dengan latar belakang yang berbeda: Johann Zarco, yang telah berpengalaman di kelas premier, dan Somkiat Chantra, pembalap rookie asal Thailand yang mencuri perhatian banyak pihak. Keduanya terbang ke Bangkok setelah menjalani tes di Sepang, Malaysia, untuk menghadiri acara tersebut.

Seperti yang sudah menjadi tradisi, tim LCR yang dipimpin oleh Lucio Cecchinello kembali memilih desain terpisah untuk motor yang digunakan oleh kedua pembalapnya. Johann Zarco akan kembali mengendarai Honda RC213V dengan dominasi warna putih-hijau khas sponsor Castrol, yang telah mendampingi tim tersebut sejak pertengahan 2010. Castrol, perusahaan minyak asal Inggris, juga memperpanjang kemitraannya dengan tim HRC tahun ini. Sementara itu, Somkiat Chantra, pembalap pertama asal Thailand di MotoGP, akan tampil dengan motor berwarna putih-merah, didukung oleh sponsor Idemitsu, yang sudah lama mendukung pengembangan pembalap Asia di ajang internasional.

Dengan peluncuran motor LCR selesai, kini seluruh tim di grid MotoGP sudah memperkenalkan motor mereka untuk musim 2025. Setelah acara peluncuran, para pembalap dan tim akan melanjutkan persiapan mereka dengan tes di Buriram, Thailand, pada 12-13 Februari. Tes ini menjadi kesempatan terakhir bagi tim-tim untuk menguji motor baru mereka sebelum musim balap dimulai di tempat yang sama pada bulan Maret.

Meskipun sebagian pembalap seperti Jorge Martin, Fabio di Giannantonio, dan Raul Fernandez tidak dapat hadir karena menjalani operasi pasca-kecelakaan saat uji coba di Sepang, sekitar 21 pembalap lainnya, termasuk Zarco dan Chantra, akan memeriahkan acara ini.

Musim 2025 diprediksi akan menjadi ujian besar bagi LCR Honda, yang berharap bisa melihat perbaikan pada motor RC213V yang sebelumnya menghadapi tantangan dalam persaingan dengan tim-tim besar Eropa dan Yamaha. Pada 2024, LCR berhasil mengungguli tim pabrikan HRC untuk finis di posisi ke-10 dalam klasemen tim, dengan Zarco memberikan hasil terbaik bagi tim tersebut, yaitu finis kedelapan di Grand Prix Thailand.

Dengan musim baru yang menjanjikan, harapan besar tertuju pada LCR dan kedua pembalap mereka untuk meraih prestasi yang lebih baik, sekaligus memperkecil celah kompetisi dengan tim-tim papan atas.

Bastianini dan Vinales Bersiap Tampil Kuat Bersama KTM Red Bull di MotoGP 2025

Pembalap Red Bull KTM Tech3, Enea Bastianini dan Maverick Vinales, siap memulai babak baru dalam karier mereka dengan bergabung bersama tim KTM untuk Kejuaraan Dunia MotoGP 2025. Keduanya, yang baru saja bergabung dengan keluarga besar KTM, membawa segudang pengalaman dan potensi besar yang akan dimanfaatkan untuk musim yang akan datang.

Bastianini menyatakan kegembiraannya, meskipun ia menekankan pentingnya kesabaran di awal musim.”Kami perlu memahami motor dan tim secara mendalam terlebih dahulu.”Tapi saya merasa termotivasi, dan saya yakin setelah balapan ketiga atau keempat, kami akan mulai menunjukkan performa yang lebih kompetitif,” ujar pembalap asal Italia ini. Ia juga mengungkapkan kesannya setelah mencoba motor KTM barunya. “Motor ini memiliki potensi yang luar biasa, terutama saat melibas tikungan tajam dan kecepatan transmisi yang sangat baik,” tambah Bastianini.

Di sisi lain, Vinales merasa antusias mengenakan warna Red Bull KTM. Pembalap asal Spanyol ini menekankan pentingnya memiliki pola pikir terbuka dan tetap fokus. “Saya akan berusaha fokus dan memberikan yang terbaik di musim 2025,” kata Vinales dengan penuh semangat.

Pada musim 2025, KTM juga diperkuat oleh Brad Binder dan Pedro Acosta, yang bersama Bastianini dan Vinales, menjadikan tim ini semakin kuat. Keempat pembalap ini berhasil finish di posisi tujuh besar pada klasemen musim sebelumnya, meningkatkan harapan tim untuk mencapai hasil lebih baik lagi di musim depan.

Manajer Tim Red Bull KTM Tech3, Nicolas Goyon, menyambut baik kedatangan Bastianini dan Vinales. Ia yakin keduanya akan menjadi tambahan yang luar biasa bagi tim. “Maverick dan Enea merupakan pembalap berpengalaman yang telah meraih 17 kemenangan dan lebih dari 50 podium di MotoGP.” Mereka akan menjadi kekuatan utama dalam sejarah tim Tech3,” kata Goyon dengan optimisme.

Adrian Newey Bicara Jujur: Mengapa Ia Harus Tinggalkan Red Bull

Setelah hampir dua dekade membangun kesuksesan dengan Red Bull Racing, Adrian Newey mengungkapkan bahwa keputusannya untuk meninggalkan tim yang telah memberinya delapan gelar pembalap dan enam gelar konstruktor bukanlah hal yang mudah. Mengambil posisi sebagai Managing Technical Partner di Aston Martin, Newey menjelaskan alasan mengapa ia memilih untuk meninggalkan Red Bull meskipun baru satu tahun lalu menandatangani kontrak baru dengan tim asal Austria tersebut.

Dalam wawancaranya, Newey mengungkapkan bahwa meskipun telah menikmati karir panjang yang sukses, ia merasa tidak nyaman dengan dinamika kekuasaan di level tinggi tim Red Bull. Salah satu faktor yang memicu keputusannya adalah komentar yang dilontarkan oleh Christian Horner, prinsipal Red Bull, yang mengindikasikan bahwa tim teknis di bawah Newey, yang dipimpin oleh Pierre Wache, tidak lagi bergantung pada dirinya. Newey merasa bahwa pendapat tersebut meremehkan kontribusinya dan tidak sesuai dengan semangat tim yang selama ini ia bangun.

“Jika seseorang mengatakan pada saya setahun yang lalu bahwa saya akan meninggalkan Red Bull, saya akan berkata itu gila,” ujar Newey. “Namun, saya merasa bahwa saya tidak bisa menjadi diri saya sendiri jika tetap bertahan di sana.” Newey menjelaskan bahwa meskipun ia tidak lagi memerlukan uang dan bisa memilih untuk pensiun, hasratnya untuk terus bekerja dan berkreasi dalam dunia desain balap motor mendorongnya untuk melanjutkan karirnya.

Setelah pengumuman kepergiannya pada 1 Mei 2024, Red Bull mengalami penurunan performa yang cukup signifikan. Meskipun Max Verstappen tetap mampu meraih gelar juara dunia keempat, tim mengalami beberapa masalah teknis, terutama dengan mobil RB20 yang semakin sulit untuk dikendalikan. Newey mengakui bahwa meskipun Max mampu mengatasi masalah ini, rekannya, Sergio Perez, kesulitan mengendarainya. Hal ini menyebabkan ketimpangan performa antara kedua pembalap tersebut, yang semakin terlihat pada paruh pertama musim 2024.

“Saya mulai khawatir dengan masalah keseimbangan mobil yang semakin parah,” kata Newey. “Namun, tidak banyak orang di organisasi yang memperhatikannya. Mereka terus melaju ke arah yang sama, dan masalah ini semakin akut.”

Sementara itu, Newey berfokus pada proyek barunya di Aston Martin yang dijadwalkan mulai bekerja pada 1 Maret. Ia melihat beberapa kesamaan antara tim Aston Martin dan Red Bull saat pertama kali bergabung pada 2006, yang saat itu juga merupakan tim yang masih muda dan membutuhkan pembangunan infrastruktur serta semangat tim yang kuat. “Aston Martin mungkin memiliki tantangan yang serupa dengan Red Bull saat itu, dan saya merasa ini adalah kesempatan besar untuk berkontribusi lebih banyak lagi,” ujarnya.

Newey berharap bahwa dengan pengalaman yang dimilikinya, ia dapat membawa Aston Martin menuju kesuksesan di masa depan, mirip seperti yang ia lakukan bersama Red Bull di masa lalu. Sementara itu, tim Red Bull harus menghadapi tantangan besar untuk mengatasi masalah teknis yang terus mengganggu performa mereka setelah kepergian sang desainer legendaris ini.

Francesco Bagnaia Siap Bersaing Sehat Di MotoGP 2025

Francesco Bagnaia, juara dunia MotoGP dua kali, menyatakan keinginannya untuk bersaing secara sehat di musim MotoGP 2025. Dalam wawancara terbaru, Bagnaia menekankan pentingnya kolaborasi dan persaingan yang fair dengan rekan setimnya, Marc Marquez, yang baru bergabung dengan tim Ducati.

Bagnaia dan Marquez merupakan dua pembalap teratas di dunia MotoGP, dan kedatangan Marquez ke tim Ducati menambah intensitas persaingan di lintasan. Meskipun keduanya adalah juara dunia, Bagnaia mengungkapkan bahwa mereka akan saling mendukung dalam pengembangan motor dan strategi balapan. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada persaingan ketat, ada juga rasa saling menghormati di antara para pembalap.

Dalam persiapan untuk musim baru, Bagnaia telah melakukan pengujian pada motor GP25 yang baru. Ia mengungkapkan bahwa motor ini memberikan peningkatan signifikan dibandingkan dengan model sebelumnya, GP24. Dengan mesin yang lebih kuat dan desain yang lebih baik, Bagnaia optimis bahwa GP25 akan membantunya meraih kesuksesan di lintasan. Ini mencerminkan komitmen Ducati untuk terus berinovasi dan memberikan alat terbaik bagi para pembalapnya.

Setelah kehilangan gelar juara dunia pada musim 2024, Bagnaia menyatakan bahwa ia telah menganalisis kesalahan yang dilakukannya dan bertekad untuk memperbaikinya. Ia berfokus pada peningkatan performa dan konsistensi selama balapan. Ini menunjukkan bahwa Bagnaia tidak hanya mengandalkan bakatnya tetapi juga berusaha keras untuk belajar dari pengalaman masa lalu.

Bagnaia juga menyatakan pentingnya dukungan dari tim dan penggemar dalam menghadapi tantangan musim depan. Ia berharap dapat kembali meraih kemenangan dan memberikan kebanggaan bagi Ducati serta para penggemarnya. Ini mencerminkan betapa pentingnya dukungan eksternal dalam membangun kepercayaan diri seorang atlet.

Dengan semangat kompetisi yang sehat dan tekad untuk belajar dari pengalaman, semua pihak berharap Francesco Bagnaia dapat kembali bersinar di MotoGP 2025. Diharapkan bahwa kolaborasi dengan Marc Marquez akan menghasilkan hasil positif bagi tim Ducati dan memberikan hiburan bagi penggemar balap motor di seluruh dunia. Keberhasilan dalam musim ini akan menjadi langkah penting bagi karir Bagnaia dan timnya dalam mencapai tujuan mereka di ajang bergengsi ini.

Casey Stoner, mantan juara dunia MotoGP, mengungkapkan pandangannya terkait rivalitas sengit antara Valentino Rossi dan Marc Marquez. Menurut Stoner, Rossi melakukan kesalahan besar dengan mencoba menggunakan pendekatan psikologis untuk menghadapi Marquez, yang justru berbalik merugikan dirinya.

  1. Pendekatan yang Salah Rivalitas antara Valentino Rossi dan Marc Marquez menjadi salah satu kisah paling berkesan dalam sejarah MotoGP, terutama setelah peristiwa kontroversial pada musim 2015. Stoner berpendapat bahwa Rossi melakukan kesalahan besar dengan berusaha mengintimidasi Marquez, pembalap muda asal Spanyol yang justru menunjukkan keberanian untuk melawan.

“Jika Anda berhadapan dengan pembalap yang agresif dan tidak takut mengambil risiko, jangan mencoba menakut-nakutinya. Itu tidak akan berhasil pada seseorang seperti Marquez,” ujar Stoner dalam wawancaranya dengan Crash, Minggu (19/1/2025).

Stoner menilai bahwa tindakan Rossi pada musim 2015, terutama terkait insiden di Sepang, menjadi langkah yang salah. “Dia (Rossi) mencoba mengusik pembalap yang paling sulit untuk ditaklukkan. Marquez adalah sosok yang bisa mengalahkan lawannya, lebih cepat, dan cukup kuat untuk tetap tenang dalam tekanan,” tambahnya.

  1. Pendekatan Lama yang Tidak Lagi Efektif Stoner juga menyoroti pola psikologis yang sering diterapkan Rossi terhadap lawan-lawannya sebelumnya. Taktik ini mungkin berhasil saat melawan pembalap-pembalap seperti dirinya, Dani Pedrosa, atau Jorge Lorenzo. Namun, hal itu tidak berlaku terhadap generasi pembalap baru seperti Marquez.

“Sebelum saya, Dani, dan Jorge, Valentino terbiasa dengan permainan psikologi yang berhasil. Tetapi kami belajar dari pengalaman itu dan mulai menemukan cara untuk menghadapi pendekatannya,” jelas Stoner.

Stoner menilai bahwa ketika Rossi mencoba menggunakan taktik lamanya terhadap Marquez, ia justru kehilangan kontrol. Konflik media dan ketegangan di trek semakin memperburuk situasi. “Rossi seharusnya tidak membiarkan masalah itu mengganggu fokusnya. Namun pada akhirnya, Marquez mampu melawan, dan itu adalah haknya,” tegas Stoner.

  1. Perbaikan Hubungan Meskipun sempat terjadi ketegangan dengan Rossi antara 2007 hingga 2011, Stoner mengakui bahwa hubungan mereka kini jauh lebih baik. Ia bahkan sempat diundang ke The Ranch, tempat latihan ikonik milik Rossi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun rivalitas di lintasan sangat intens, hubungan pribadi mereka tetap bisa dipulihkan.

Rivalitas antara Rossi dan Marquez masih menjadi topik yang menarik hingga sekarang. Meskipun sudah lebih dari sepuluh tahun, dinamika di antara keduanya, baik di dalam maupun di luar lintasan, terus menjadi cerita yang memikat dalam dunia MotoGP.

Rivalitas Panas Rossi dan Marquez: Stoner Sebut Rossi Salah Perhitungan

Casey Stoner, mantan juara dunia MotoGP, memberikan pandangan menarik soal rivalitas panas antara Valentino Rossi dan Marc Marquez. Menurutnya, Rossi salah langkah saat mencoba menggunakan perang psikologi untuk menghadapi Marquez. Pasalnya, strategi tersebut justru berbalik menjadi bumerang.

1. Strategi yang Keliru
Rivalitas Valentino Rossi dan Marc Marquez memang menjadi cerita tak terlupakan dalam sejarah MotoGP, terutama setelah insiden kontroversial di musim 2015. Casey Stoner menyebut, Rossi salah perhitungan dengan mencoba “menggertak” Marquez, pembalap muda asal Spanyol yang justru berani melawan.

“Jika Anda tahu seorang pembalap agresif dan tidak takut mengambil risiko, jangan mencoba menakutinya. Anda tidak akan berhasil melakukannya terhadap orang seperti Marquez,” ungkap Stoner dalam wawancara dengan Crash, Minggu (19/1/2025).

Menurut Stoner, langkah Rossi di musim 2015, terutama saat konflik di Sepang, justru menjadi kesalahan besar. “Dia (Rossi) mengusik pembalap yang paling sulit diusik di grid. Marquez adalah seseorang yang mampu mengalahkannya, lebih cepat, dan juga cukup tangguh untuk keluar dari tekanan itu,” tambahnya.

2. Pola Lama yang Tidak Efektif
Stoner juga menyoroti pola psikologis yang sering digunakan Rossi terhadap lawan-lawannya di masa lalu. Taktik tersebut mungkin berhasil melawan pembalap lain seperti dirinya, Dani Pedrosa, atau Jorge Lorenzo. Namun, hal ini tidak berlaku terhadap generasi baru, termasuk Marquez.

“Sebelum saya, Dani, dan Jorge datang, Valentino terbiasa memainkan permainan psikologi dengan mudah. Tapi kami belajar dari trik-triknya dan mulai memahami cara menghadapinya,” ujar Stoner.

Stoner menilai, saat Rossi mencoba menggunakan taktik lama terhadap Marquez, ia justru kehilangan kendali. Perang kata-kata di media dan insiden di lintasan hanya memperburuk situasi. “Rossi seharusnya tidak membiarkan konflik itu merusak fokusnya. Namun, pada akhirnya, Marquez mampu melawan, dan itu adalah haknya,” tegas Stoner.

3. Hubungan yang Membaik
Meski sempat berseteru dengan Rossi selama periode 2007 hingga 2011, Stoner mengakui bahwa hubungan mereka kini jauh lebih baik. Ia bahkan pernah diundang ke The Ranch, tempat latihan ikonik milik Rossi. Hal ini membuktikan bahwa meski rivalitas di lintasan memanas, hubungan pribadi keduanya tetap bisa diperbaiki.

Rivalitas Rossi dan Marquez masih menjadi topik hangat hingga saat ini. Kendati telah berlalu satu dekade, dinamika keduanya di dalam dan luar lintasan tetap menjadi cerita yang menarik dalam dunia balap MotoGP.